panel header


AMBEG PRAMA ARTA
Memberikan Prioritas Pada Hal-hal Yang Mulia
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
23 Januari 2011 | 14:40 wib
Pengusaha Konveksi Keluhkan Kenaikan Harga Kain
.

Magelang, CyberNews. Sejumlah pengusaha konveksi mengeluhkan kenaikan harga bahan baku berupa kain pada awal tahun ini bahkan sudah berangsur-angsur naik setelah peristiwa erupsi Merapi. Hanya saja mereka merasa pasrah meski agak berat menerimanya karena mau tidak mau turut menaikkan harga produk konveksinya.

Mustafa Kamal (48), pemilik usaha konveksi SWN mengatakkan, bahwa kenaikan harga bahan baku terutama kain sudah terjadi paskaerupsi Merapi dua bulan silam, sekitar 30 persen. Bahkan terus meningkat hingga sekarang meski sempat menurun tipis.

Sebelum terjadi Merapi, katanya harga kain Rp 8000 per meter dan kain kaos Rp 37 ribu per kilogram. Setelah bencana Merapi harga naik menjadi Rp 12 ribu/m dan Rp 55 ribu/kg. Sekarang untuk kain kaos sedikit sedikit turun, sebesar Rp 5000 sehingga harga sekarang menjadi Rp 50 ribu/kg.

“Kami kurang mengetahui persis penyebab kenaikan tersebut karena sudah dari grosirnya di Jogja. Yang jelas ketika saya belanja bahan baku setelah terjadi bencana ala, harga sudah naik,” ujarnya saat ditemui di rumah produksinya di Desa Gandusari Bandongan Magelang, Minggu (23/1).

Akibat kenaikan harga bahan baku yang paling penting tersebut, pihaknya pun mau tidak mau menaikkan harga produknya agar tidak mengalami kerugian. Namun demikian, dia hanya bisa menaikkan harga sedikit karena takut akan terjadi penurunan pelanggan.

“Harganya kita naikkan 10 persen atau Rp 2500 per stel pakaian. Misalnya untuk pakaian seragam sekolah, dulu seharga Rp 25 ribu per stel, sekarang naik menjadi Rp 27.500 per stel. Kita tidak berani menaikkan banyak karena takut pelanggan berkurang. Apalagi kebanyakan pelanggan dari masyarakat kecil,” katanya.

Selain pakaian seragam sekolah, dia juga membuat aneka produk konveksi lainna seperti kaos, pakaian training, jaket, rompi, dan lain sebagainya. Meski ada kenaikan, kata bapak tiga putra ini pesanan masih tetap ramai. Selain karena kualitas, perusahaan ini merupakan satu-satunya usaha konveksi yang berdiri di tengah-tengah kampung sehingga menjadi tujuan utama masyarakat sekitar terutama instansi pendidikan untuk membuat aneka pakaian mulai dari seragam hingga perorangan.

“Ya syukurlah pesanan masih banyak. Rata-rata dalam sebulan ada sekitar 1000 pcs pesanan. Lumayan masih cukup untuk menutup biaya produksi dan membayar karyawan,” ungkapnya.

Keluhan akan kenaikan harga bahan baku ini tidak hanya dari pengusaha konveksi, tapi juga para penjahit yang sering menerima pesanan pembuatan pakaian terutama seragam sekolah. Muh Jarkoni (58), salah satunya. Ia pun turut merasakan dampak kenaikan bahan baku tersebut.

Pak Muh, sapaan akrabnya mengatakan bahwa ia menaikkan harga pakaian baru yang dibuatnya sejak harga bahan baku naik. Saat ini, untuk pakaian kemeja dipatok Rp 25 ribu/potong, celana panjang Rp 40 ribu/potong, jaket Rp 50 ribu/potong.

“Saya kurang mengetahui persis penyebab kenaikannya, mungkin karena bencana alam maupun karena harga kebutuhan pokok yang juga naik. Meski harga tarif pembuatan naik, tapi kenaikannya tidak banyak, rata-rata per potong naik Rp 5000 sampai Rp 10 ribu tergantung tingkat kesulitan,” jelasnya.

( Asef Amani / CN27 / JBSM )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share

Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
Index Berita
05 September 2014 | 23:56 wib
Dibaca: 13247
05 September 2014 | 23:45 wib
Dibaca: 13984
05 September 2014 | 23:30 wib
Dibaca: 13758
image
05 September 2014 | 23:15 wib
Dibaca: 16145
05 September 2014 | 23:00 wib
Dibaca: 13322
Panel menu tepopuler dan terkomentar
 Berita Terpopuler
FOOTER