panel header


OJO ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA
Jangan Sok Kuasa, Sok Besar, Sok Sakti
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
16 Januari 2011 | 08:25 wib
Harga Gula Tumbu Mencekik, Pengusaha Kecap Nyaris Gulung Tikar
image

BERSIHKAN BOTOL: Sejumlah pekerja salah satu pabrik kecap sekala rumah tangga di Desa Temulus, Kecamatan Mejobo, Kudus, membersihkan botol, Minggu (16/1). Ini merupakan kegiatan mengisi waktu luang di saat tidak berproduksi. (SM CyberN

Kudus, CyberNews. Harga gula tumbu yang semakin mencekik membuat sejumlah pengusaha kecap di Desa Temulus, Kecamatan Mejobo, Kudus mengeluh dan bahkan sebagian ada yang nyaris gulung tikar, bahkan sisanya beralih profesi. Ini dikarenkan karena biaya operasinal juga ikut naik.

Guna menutup kerugian, para pegusaha kecap memilih strategi dengan menghabiskan stok produksi bulan lalu.  Seperti yang dialami Noor Aidi, Suliyati, dan Siswati. Ketiga warga Desa Temulus sejak lama menggantungkan hidupnya dari usaha pembuatan kecap.

Diakui mereka, kondisi pasar yang lesu ini sebenarnya sudah dirasa sejak Agustus 2010 lalu. "Pemicu awalnya, saat itu harga gula tumbu yang merupakan bahan dasar pembuatan kecap mulai melambung," kata Noor Aidi.

Waktu itu, harga gula tumbu perkilogramnya tercatat sekitar Rp 5.300, kemudian bulan November kembali naik lagi menjadi Rp 5.800 per kilogram, dan puncaknya Januari 2011 ini sudah mencapai Rp 7.300 per kilogram. "Tentunya hal ini cukup memberatkan, karena harga kecap dipasaran tidak bisa naik. Jelas hal ini dikeluhakan oleh konsumen lantaran harganya terlalu mahal," katanya.

Noor Aidi menjelaskan, saat  ini haraga kecap per botol hanya Rp 6.500, jika dinaikan bisa mendekati angka Rp 8.000 per botol. "Bagi konsumen harga tersebut sudah tidak normal, karena sangat mahal. Sebab, sasaran kami adalah menengah ke bawah," terangnya.

Jika kondisi ini terus berlanjut dan harga gula tumbu belum juga turun, dikhawatirkan usaha produksi kecap bisa langsung gulung tikar.  Bagaimanapun juga kami tetap menunggu turunnya harga gula tumbu, idealnya kisaran Rp 5.500 per kilogram. Jika tidak maka untuk sementara usaha kami tutup," lanjut Noor.

Rempah-Rempah Naik

Hal senada dilontarkan Suliyati. Menurut pengusaha kecap ini, tidak hanya soal kenaikan harga gula tumbu saja yang menjadi masalah. Di sisi lain, bahan lain yang biasa digunakan sebagai penunjang produksi kecap juga ikut-ikutan naik, seperti rempah-rempah.

"Terutama bawang putih, yang sebelumnya per kilogram Rp 8.500 sekarang menjadi Rp 22.000," kata Suliyati.

Tentunya, hal itu membuat dirinya kelimpungan, karena biaya produksi dengan pemasukan tidak seimbang. "Untuk sementara kami hentikan produksi lain menunggu sejumlah harga bahan baku kembali normal," imbuhnya.

( Ruli Aditio / CN27 / JBSM )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share

Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
05 September 2014 | 23:56 wib
Dibaca: 15602
05 September 2014 | 23:45 wib
Dibaca: 16541
05 September 2014 | 23:30 wib
Dibaca: 16306
image
05 September 2014 | 23:15 wib
Dibaca: 18884
05 September 2014 | 23:00 wib
Dibaca: 15774
Panel menu tepopuler dan terkomentar
 Berita Terpopuler
FOOTER