
Magelang, CyberNews. Ratusan pengungsi lahar dingin yang menempati shelter box atau tenda pengungsian di Lapangan Desa Jumoyo Kecamatan Salam mendoakan arwah KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur. Sejumlah tokoh lintas agama juga turut berdoa dalam acara peringatan satu tahun meninggalnya Gus Dur.
Sejumlah tokoh yang hadir di antaranya sahabat dekat Gus Dur sekaligus tokoh NU Kabupaten Magelang KH Amin Khamid, Romo Vincentius Kirdjito Pr (Katholik), Pendeta Indrianto (Kristen) dan Bante Jody Sujianto dari Majelis Agama Budha (Budha) serta pimpinan Ponpes Asrama Perguruan Islam (API) Magelang KH Yusuf Khudlori (Gus Yusuf).
Anak sulung Gus Dur Alisa Qortrunnada Munawarah atau biasa disapa Lisa Wahid juga turut hadir. Satu per satu mereka memberikan penghormatan kepada Gus Dur dan kemudian meletakkan bunga di depan foto mendiang Gus Dur.
Setelah itu, para pengungsi membaca tahlil secara bersama-sama. Adapun warga non Islam berdoa sesuai adat dan kepercayaannya masing-masing. Usai tahlil, para tokoh tersebut memberikan testimoni dan menceritakan berbagai kenangan semasa Gus Dur masih hidup. "Gus Dur orang yang baik. Dia tak hanya pahlawan bagi NU namun juga warga minoritas," kata Romo Kirdjito.
Sedangkan bagi Pendeta Indrianto apa yang telah dilakukan warga sekitar Merapi selama ini merupakan salah satu bentuk ajaran Gus Dur. Seluruh korban Merapi saling tolong menolong tanpa membedakan agama dan golongan. "Saya belum sempat bertemu Gus Dur namun saya selalu belajar dari dia lewat buku, televisi dan koran. Ia selalu mengajarkan tentang kemanusiaan," puji dia.
Gus Yusuf menegaskan ajaran Gus Dur merupakan ajaran kebersamaan yang tidak ada batasnya. Ajarannya merupakan ajaran Islam sederhana, Islam sejati dan tidak suka dengan mengobral takbir. Ia mengajak para pengungsi melanjutkan warisan nilai-nilai yang diajarakan Gus Dur dan para ulama.
( MH Habib Shaleh / CN14 )