
Jakarta, CyberNews. Ketua Dewan Pembina Komisi Nasional Perlindungan Anak (KOMNASPA), Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto meminta anak dilibatkan dalam konflik orang dewasa. Hal ini menyusul penggembokan Panti Asuhan Khasanah Kaustar Kawalu Tasikmalaya oleh pihak Kejaksaan dan Kepolisian.
"Anak jangan dilibatkan dan diekspolitisi ekonomi polkitik apapun. Anak berada di posis netral yang aman," kata Kak Seto dalam diskusi di Cikini, Jakarta, Senin (27/12).
Pelibatan anak dalam konflik, ujarnya, dapat menyebabkan anak menjadi minder dan tidak percaya diri. Bahkan dapat menyebabkan anak jadi pembenci dan balas dendam. "Kita harus beri keteladanan kepada anak-anak bahwa semua bisa diselesaikan dengan musyawarah," tutur Kak Seto.
Sementara sejumlah lembaga diantaranya, SOS Desa Taruna, Institut Studi Anak Indonesia, Wahid Institute, Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika, Kontras, LBH Jakarta, PBHI Jakarta, SARI-Solo, Maarif Institute mendesak pencabutan segel panti asuhan karena tidak terkait dengan konflik antara Jamaah Ahmadiyah dan sejumlah organisasi masyarakat (ormas) Islam.
Koalisi aktivis peduli hak anak itu hanya menginginkan situasi yang kondusif dan aman bagi para penghuni Panti Asuhan Khasanah Kautsar Kawalu. "Kami fokus terhadap kepentingan terbaik anak. Kami hanya ingin kehidupan anak-anak menjadi normal dan tidak ikut campur dengan konflik di antara kelompok agama," kata aktivis SOS Desa Taruna Hadiyanto Nitihardjo.
Seperti diketahui, penggembokan panti asuhan milik Jamaah Ahmadiyah dilakukan pada 8 Desember lalu oleh Polres Tasikmalaya dan Kejaksaan Negeri Tasikmalaya. Penyegelan dilakukan atas dasar penolakan masyarakat yang menyebut ada kegiatan ibadah di panti anak tersebut.
( Mahendra Bungalan / CN26 )