
Jakarta, CyberNews. Sejumlah lembaga dan pribadi mengecam penggembokan Panti Asuhan Khasanah Kaustar Kawalu Tasikmalaya oleh pihak Kejaksaan dan Kepolisian. Pasalnya, penggembokan tersebut dinilai bisa menyebabkan trauma pada psikologis anak.
Menurut aktivis SOS Desa Taruna Hadiyanto Nitihardjo, penggembokan tersebut yang terjadi pada 8 Desember lalu tidak semestinya terjadi. "Sebuah panti asuhan harusnya menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi anak-anak yang telah kehilangan kepengasuhan orang tua untuk hidup, tumbuh, belajar, dan berkembang," kata Hadi dalam diskusi di Jakarta, Senin (27/12).
Dia menambahkan, kekerasan dan diskriminasi terhadap anak memiliki bermacam bentuk dan dimensi. Kekerasan tidak hanya berbentuk fisik, tapi juga berbentuk psikis. "Pada dasarnya hak anak untuk hidup dan tumbuh kembang, tempat tinggal yang layak, memperoleh pendidikan, memeluk agama, dan terbebas dari diskriminasi," ujar Hadi.
Karena itu, lanjut Hadi, dirinya bersama sejumlah lembaga di antaranya, Institut Studi Anak Indonesia, Wahid Institute, Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika, Kontras, LBH Jakarta, PBHI Jakarta, SARI-Solo, Maarif Institute meminta pihak yang berwenang membuka gembok yang mengisolaso anak dalam panti asuhan.
( Mahendra Bungalan / CN26 )