panel header


CRAH AGAWE BUBRAH
Bercerai Kita Runtuh
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
20 Desember 2010 | 10:23 wib
Terkena Dampak Letusan Merapi
Bisnis Budidaya Lebah Lesu
image

Magelang, CyberNews. Lesu, itu kesan kuat dinamika usaha budidaya madu di lereng Pegunungan Menoreh, wilayah Borobudur, Kabupaten Magelang. Bagaimana tidak. Lebah yang menjadi penyangga ekonomi keluarga, mendadak macet tidak mau memproduksi madu.

Penyebabnya, hujan abu vulkanik Gunung Merapi. Seluruh bunga tanaman Kaliandra dan tanaman hutan lainnya hancur. Para petani kemudian menarik stup yang berisi lebah dari kawasan hutan yang jaraknya sekitar 2 km itu, ke halaman rumah masing-masing.

Beruntung, lebahnya tidak ikut mati. Tetapi ada beberapa “ratu” dari lebah madunya yang mati sehingga sebagian koloninya menjadi bubar kemana-mana. Kalau sudah begitu, berarti ada pengurangan koloni pada kotak (stup) tertentu yang menjadi kosong.

"Kalau dalam keadaan biasa, dapat dipanen madu setiap 25 – 40 hari. Dari 1.200 stup bisa menghasilkan madu 485 kg. Namun sejak hancurnya bunga tanaman Kaliandra dan lainnya itu sampai saat ini petani belum pernah panen," kata Bambang "Tawon", tokoh petani madu Giri Tengah.

Kalau lebahnya masih ada distup dan membuat ”rumah madu” atau ”tolo”, itu hanya untuk bertahan hidup. Karena ”sumber bahan baku madu” tidak ada itu, lebah seperti kebingungan dalam mencari madu sehingga ”tolo” itu banyak yang kosong.

Hanya 30%

Dari hasil ujicoba proses pengambilan madu yang dilakukan Kamis, 16 Desember 2010, hanya diperoleh madu sekitar 30% dari produksi normalnya. Artinya, kalau dalam waktu sekitar sebulan biasanya diperoleh 0,5 kg/stup, tetapi hari itu hanya diperoleh madu sekitar 0,16 kg saja.

Jadi kerugian petani akibat erupsi dan hujan abu Merapi pada Oktober – Nopember 2010, untuk 1.200 stup, sekitar 408 kg. Dengan harga jual ditingkat petani Rp 40.000/kg, maka nilai kerugian Desember 2010 Rp 16.320.000.

Menurut perkiraan Bambang, tanaman Kaliandra dan lainnya di Menoreh baru akan normal berbungan sekitar 4 – 6 bulan kedepan. Itu artinya kerugian petani lebah  untuk madu yang ”hilang” dalam 6 bulan mendatang   sekitar Rp 97.920.000. Sementara itu matinya ”ratu” lebah dan bubarnya koloni sebesar 30% dari stup yang ada, kerugian petani bertambah  sekitar Rp 80.000.000, sehingga kerugian petani lebah di lereng Menoreh menjadi lebih besar lagi.

Bagi sekitar 20 petani madu Giri Tengah kerugian itu amat terasa. Berdasarkan apa yang dirasakannya sekarang, petani lereng Menoreh yang jaraknya jauh dari Merapi itu, jelas lepas dari perhatian para penyumbang korban Merapi. Para penyumbang dan pihak-pihak yang menangani bencana Merapi, sebagian besar dana dan perhatian banyak ditujukan di kawasan sekitar lereng Merapi.

( Tuhu Prihantoro / CN26 )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share

Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
05 September 2014 | 23:56 wib
Dibaca: 3195
05 September 2014 | 23:45 wib
Dibaca: 3425
05 September 2014 | 23:30 wib
Dibaca: 3255
image
05 September 2014 | 23:15 wib
Dibaca: 4337
05 September 2014 | 23:00 wib
Dibaca: 3166
Panel menu tepopuler dan terkomentar
 Berita Terpopuler
05 September 2014 | 23:15 wib
02 September 2014 | 12:53 wib
05 September 2014 | 23:45 wib
05 September 2014 | 23:30 wib
FOOTER