
Yogyakarta, CyberNews. Kebijakan Operasi Pasar (OP) oleh Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Bulog serta pedagang beras dinilai berhasil menekan harga kebutuhan pokok. Meski terjadi kenaikan harga, hal ini relatif kecil.
Demikian diungkapkan Pemimpin Bank Indonesia (BI) Yogyakarta, Dewi Setyowati dalam rilis yang diterima Suara Merdeka baru-baru ini, terkait inflasi di DIY. Ia mengungkapkan bahwa kondisi ini membuat tekanan inflasi di DIY pada bulan Desember 2010 masih normal.
“Operasi Pasar baik khusus maupun murni yang dilakukan Pemda DIY dan Bulog serta pedagang beras memberi pengaruh besar terhadap penekanan harga di pasaran yang mulai ada kenaikan. Sehingga tekanan inflasi masih terjaga normal,” ujarnya.
Mantan Pemimpin BI Solo ini mengemukakan, kebijakan OP merupakan salah satu faktor yang berhasil mempengaruhi pergerakan harga agak tertahan selain juga faktor lain. OP Khusus sendiri merupakan kebijakan pemerintah yang menyalurkan beras raskin ke 13 kepada 201.628 Rumah Tangga Sasaran sebanyak 3.024 ton yang diharapkan dapat mengurangi tekanan permintaan dan harga di pasar.
Sedangkan OP Murni merupakan kebijakan yang dilakukan Pemda DIY bekerja sama dengan Bulog dan juga pedagang beras mulai tanggal 13 Desember lalu sampai dengan jangka waktu yang tidak terbatas melakukan OPr beras kelas medium dengan harga maksimal Rp 6100 per kg. Hal ini didukung pula oleh ketersediaan stok Bulog yang memadai dan adanya panen raya di beberapa daerah di DIY, Kabupaten Klaten, dan Kabupaten Purwodadi.
“Sementara untuk faktor lain yang mendukung penekanan harga ini antara lain konsumsi masyarakat yang masih relatif rendah, pasokan dan stok hampir sebagian besar komoditas mencukupi kecuali pada beberapa komoditas bumbu-bumbuan, dan nilai tukar rupiah yang cenderung menguat serta kegiatan pro aktif pemerintah daerah, Bank Indonesia, kepolisian dan anggota TPID untuk mengawal perkembangan harga-harga komoditas pokok,” jelasnya.
( Asef Amani / CN16 )