
Magelang, CyberNews. Jenazah korban mutilasi Tutik Wijayanti (38) dimakamkan di Dusun Karangsuwung (Suko Rame), Desa Banyu Biru, Kecamatan Dukun pada Rabu malam (1/12). Sebelumnya, jenazah sempat dipindahkan dari RSUD Muntilan ke RS Sarjito Yogyakarta untuk menjalani autopsi kedua.
Selanjutnya, jenazah dibawa pulang ke Magelang dan tiba di rumah duka pada pukul 21.00 WIB. Beberapa saat kemudian jenazah langsung dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) Desa Banyubiru di bawah kaki Bukit Goro.
Pemakaman ini sangat sederhana dan tanpa melalui upacara keagamaan. Pemakaman berlangsungsingkat dan hanya diikuti keluarga dan kerabat terdekat korban saja. Sementara keluarga pihak suami tidak kelihatan.
Jenazah Tutik terpaksa langsung dimakamkan dengan pertimbangan sudah mengeluarkaan bau busuk dan waktu juga sudah terlalu malam. “Pihak keluarga memang minta jenazah langsung dimakamkan,” kata Marmidi (45), tokoh masyarakat setempat.
Seperti diketahui, Tutik Wijayanti menjadi korban mutilasi suaminya sendiri di rumah kontrakan mereka di Dusun Ponalan Baru, Desa Tamanagung, Muntilan. Ibu rumah tangga dengan tiga anak ini dipotong menjadi sembilan bagian.
Setelah itu, seluruh daging dan organ dalam korban disayati dan dimasukkan ke dalam kardus minuman mineral. Potongan daging dan organ dalam tersebut kemudian dihanyutkan lahar di Kali Pabelan.
Karena itu, jenazah Tutik yang tinggal tulang belulang langsung dimakamkan tanpa menunggu daging dan organ dalamnya ditemukan. Pihak keluarga dan polisi kesulitan mencarinya karena sudah terbawa lahar Merapi ke hilir. Dalam beberapa hari terakhir aliran lahar Kali Pabelan memang sangat besar.
Kepergian Tutik dengan cara sadis ini meninggalkan duka mendalam dari pihak keluarga. Mereka tidak menyangka jika Tutik yang dikenal wanita baik-baik harus menemui ajal dengan cara mengenaskan. Karena itu, pihak keluarga meminta tersangka Widi Widayat untuk diberi hukuman setimpal atas kekejamannya.
“Saya masih tidak percaya dengan kejadian ini. Dayat memang ringan tangan namun kenapa bisa setega itu. Anak saya sangat sayang padanya, sehingga meski dipukuli namun tidak meninggalkan dia,” kata Suratmin, ayah korban.
Kapolsek Muntilan AKP Supriyono, yang datang mewakil Kapolres AKBP Kif Aminanto yang berhalangan, meminta pihak keluarga untuk bisa menerima musibah tersebut dengan baik. Dia menegaskan bahwa polisi akan mengusut kasus tersebut hingga tuntas.
( MH Habib Shaleh / CN26 )