
Jakarta, CyberNews. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, konflik di semenanjung Korea belum berdampak pada kinerja ekspor Indonesia ke Korea Selatan. Pasalnya, konflik yang hampir berujung perang tersebut baru terjadi pada pertengahan November sehingga belum terekam pada kinerja ekspor Oktober 2010.
"Kita kaitkan dengan eskalasi perang. Perang baru dimulai pertengahan November, sehingga dampaknya belum ada," kata Kepala BPS Rusman Heriawan di Jakarta, Rabu (1/12).
Menurutnya, konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan hanya fenomena sesaat bagi kinerja Indonesia secara keseluruhan. "Situasi November bisa jadi ekspor ada pengaruhnya sedikit," ungkap Rusman.
Rusman berharap konflik di semenanjung Korea bisa selesai secepatnya. Pasalnya, konflik tersebut mempunyai efek domino pada kinerja ekspor Indonesia ke Korea Selatan. "Korsel merupakan penyumbang surplus perdagangan kedua setelah AS. Kita akan kehilangan investasi dari Korsel karena Korsel termasuk negara besar penyumbang ekspor," jelas Rusman.
Pada Oktober 2010, lanjut dia, kinerja ekspor Indonesia ke negeri ginseng tersebut menurun. Hal ini terlihat dari neraca perdagangan Indonesia-Korsel yang tadinya surplus menjadi defisit. Data BPS menunjukkan defisit neraca perdagangan Korsel dengan Indonesia di bulan Oktober 2010 mencapai 143,3 juta dolar AS.
( Kartika Runiasari / CN26 )