
Jakarta, CyberNews. Pasca letusan (erupsi) Gunung Merapi, sebanyak 22 gunung di 14 provinsi aktif di Indonesia statusnya naik menjadi waspada. Oleh karena diperlukan antisipasi oleh pemerintah daerah dengan mendorong Legislasi Perda Bencana dan Perda Badan Penanggulangan Bencana
Hal itu diungkapkan Ellena F Manambe, Direktur Eksekutif Indonesia Local Legislator Association (ILLA) di Jakarta Selasa (9/11). Dia mengatakan, Kepala Badan Geologi ESDM R Sukhyar yang mengungkapkannya ke publik tentang hal itu. Penetapan status normal ke waspada menunjukkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas di gunung api tersebut.
Dikatakan, Secara histografi, Indonesia merupakan wilayah langganan gempa bumi dan tsunami. Pasca meletusnya Gunung Krakatau yang menimbulkan tsunami besar di tahun 1883, setidaknya telah terjadi 17 bencana tsunami besar di Indonesia selama hampir satu abad (1900-1996).
Berbagai daerah di Indonesia, lanjut Eellena, merupakan titik rawan bencana, terutama bencana gempa bumi, tsunami, banjir, dan letusan gunung berapi. Wilayah Indonesia dikepung oleh lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik.
"Sewaktu-waktu lempeng ini akan bergeser patah menimbulkan gempa bumi. Selanjutnya jika terjadi tumbukan antarlempeng tektonik dapat menghasilkan tsunami, seperti yang terjadi di Aceh dan Sumatera Utara," tambahnya.
Ellena mengungkapkan catatan dari Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukan bahwa ada 28 wilayah di Indonesia yang dinyatakan rawan gempa dan tsunami.
Diantaranya NAD, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jateng dan DIY bagian Selatan, Jatim bagian Selatan, Bali, NTB dan NTT. Kemudian Sulut, Sulteng, Sulsel, Maluku Utara, Maluku Selatan, Biak, Yapen dan Fak-Fak di Papua serta Balikpapan Kaltim.
Selain dikepung tiga lempeng tektonik dunia, menurutnya, Indonesia juga merupakan jalur The Pasicif Ring of Fire (Cincin Api Pasifik), yang merupakan jalur rangkaian gunung api aktif di dunia. Cincin api Pasifik membentang di antara subduksi maupun pemisahan lempeng Pasifik dengan lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, lempeng
Amerika Utara dan lempeng Nazca yang bertabrakan dengan lempeng Amerika Selatan. Zona kegempaan dan gunung api aktif Circum Pasifik amat terkenal. Karena, setiap gempa hebat atau tsunami dahsyat di kawasan itu, dipastikan menelan korban jiwa manusia amat banyak.
Untuk mengetahui kapan gempa bumi akan terjadi merupakan pekerjaan sulit. Hal ini dikarenakan gempa dapat terjadi secara tiba-tiba. "Antisipasi yang mungkin dilakukan adalah melakukan sistem peringatan dini (early warning sytem). Ia berfungsi sebagai "alarm" darurat jika sewaktu-waktu datang gempa tak terduga," tambahnya.
Ditegaskan, sejumlah pakar lintas pengetahuan menerapkan metoda ini dengan memasang rangkain seismograph yang tersambung dengan satelit. National Ocean and Atmospheric Administration (NOAA) USA misalnya, telah menggunakan sensor bernama DART (Deep Oceaan Assesment and Reporting) yang mampu mengukur perubahan gelombang laut akibat gempa bumi tektonik.
( A Adib / CN26 )