
Wonogiri, CyberNews. Jembatan Tangkluk di Dusun Tangkluk RT 01/014 Desa Pare Kecamatan Selogiri Kabupaten Wonogiri, Jumat dinihari (15/10) ambrol. Menyebabkan hubungan darat antardesa-antarkecamatan terputus, utamanya untuk jenis kendaraan roda empat.
Kepala Desa Pare Waluyo Dwi Brasto SH melalui Sekretaris Desa Pare Sriyanto, menyatakan, proses ambrolnya jembatan Tangkluk berlangsung Jumat dinihari (15/10), sekitar pukul 01.30 WIB. "Setelah semalaman turun hujan deras berkepanjangan," tutur Sekdes Sriyanto. Bagian yang ambrol terletak pada sisi barat. Bangunan leneng (pagar jembatan) runtuh, dan sebagian glogor besi penguatnya jatuh ke dasar sungai.
Jembatan Tangkluk, ungkap Sriyanto, dibangun sekitar tahun 1960 an. Awalnya hanya dipasang glogor kayu dan kemudian diganti dengan penguat glogor besi dari bahan rel. Ini setelah di seberang kali, dijadikan lahan kebuh tebu oleh pabrik gula. Sehari-harinya, Jembatan Tangkluk menjadi sarana utama hubungan darat antardesa dan antarkecamatan. Utamanya hubungan antara Kelurahan Giriwono Kecamatan Wonogiri Kota, ke Desa Pare Kecamatan Selogiri, dan menjadi jalur tembus ke Kabupaten Sukoharjo serta ke Kabupaten Klaten, melalui Desa Pule Kecamatan Selogiri.
Warga masyarakat yang sehari-harinya melewati Jembatan Tangkluk, datang dari Desa Pare, Keloran, Kepatihan, Pule dan dari Kelurahan Giriwono. Khususnya bagi warga masyarakat yang akan bepergian ke pasar dan pusat perbelanjaan, serta bekerja ke pusat ibukota kecamatan maupun ke ibukota kabupaten. Karena sekarang ambrol di sisi barat, menjadikan jembatan itu tidak dapat dilewati oleh mobil. "Terbatas hanya dapat dilewati pejalan kaki, sepeda onthel dan sepeda motor," tegas Sekdes Sriyanto.
Terkait dengan ambrolnya Jembatan Tangkluk, Camat Selogiri Drs Bambang Haryanto MM, Jumat (15/10), memimpin tim kecamatan untuk melakukan pengecekan. Petugas teknis DPU Kecamatan Selogiri, yang melakukan pengukuran menyatakan panjang jembatan 14 meter, tinggi 5 meter, lebar 4,5 meter. Nilai kerugian materi sekitar Rp 225 juta.
Camat Bambang menyatakan, Jembatan Tangkluk merupakan sarana utama hubungan darat warga masyarakat. Karena ambrol dan sekarang hanya memungkinkan untuk dilewati sepeda motor dan pejalan kaki, maka untuk kendaraan roda empat dialihkan routenya melalui jalur lingkar. Untuk memberikan petunjuk arah ke jalur lingkar ini, pihak pemerintahan desa (Pemdes) Pare telah membuat rambu-rambu yang dipancangkan di perempatan jalan sebelum memasuki Jembatan Tangkluk. Karena vitalnya peran Jembatan Tangkluk, Pemdes Pare dan Camat Selogiri berharap, agar Pemkab segera memberikan kepedulian untuk memprioritaskan pemugarannya.
( Bambang Purnomo / CN12 )