
Temanggung, CyberNews. Sejumlah daerah di beberapa kecamatan di Kabupaten Temanggung rawan terjadi bencana tanah longsor. Karena itu, warga diminta untuk dapat meningkatkan kewaspadaan, terlebih menurut prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika pada bulan Okotober depan telah memasuki musim hujan, sehingga akan sering terjadi hujan lebat.
Kasi Perlindungan Masyarakat (Linmas), Kantor Kesatuan Kebangsaan Politik dan Linmas, Agus Sudaryono, di ruang kerjanya, mengatakan, sejumlah daerah tersebut rawan longsor dikarenakan kondisi alamnya yang berbukit-bukit. Di samping itu, juga tanaman keras yang berfungsi untuk menahan longsornya tanah bukit tersebut sudah jarang.
"Tanah longsor tersebut rawan terjadi, terutama di daerah-daerah atau perbukitan, yang memiliki kemiringan 40 derajat. Di wilayah Kabupaten Temanggung, lokasi yang kondisinya seperti itu ada di beberapa daerah," ujarnya.
Beberapa daerah tersebut adalah, di Kecamatan Gemawang, khususnya di Desa Muncar, kemudian di Kecamatan Candiroto, khususnya Desa Gunung Payung, di Kecamatan Bejen (khusunya Desa Ngaliyan), Kecamatan Kaloran, Kandangan, Jumo, Pringsurat dan Tretep. Terutama untuk Kecamatan Tretep ini, banyak sekali daerah perbukitan di wilayah itu yang kemiringannya hingga 40 derajat.
"Bahkan, di ruas-ruas jalan raya dari Wonoboyo menuju ke ibu kota Kecamatan Tretap, yang melewati daerah-daerah perbukitan, seringkali ditemukan gundukan-gundukan material dari tanah bukit yang longsor. Begitu pula, di ruas jalan Desa Tegong hingga Braman, di Kecamatan Kedu dan Gemawang," ungkapnya.
Sedangkan bentuk kewaspadaan atau langkah antisipasi yang bisa dilakukan warga guna menghindari adanya korban, jika sewaktu-waktu terjadi tanah longsor ada beberapa hal. Antara lain, jika terjadi hujan deras selama berjam-jam, secepatnya beralih dari tempat tinggalnya yang berada di daerah rawan longsor.
"Jika kebetulan rumahnya berada di atas tanah yang miring atau rawan longsor, segeralah mengungsi ke rumah tetangga atau kerabatnya, yang berada di daerah aman," ujarnya.
Di samping itu, sebaiknya, warga juga tidak menggarap lahan pertanian di lokasi yang kurang aman, yakni memiliki kemiringan 40 derajat dan tidak ada tanaman keras yang mengikat tanah dari longsor. Terlebih, apabila tanaman yang ada di lokasi tersebut adalah tanaman semusim, seperti tembakau dan sayur-sayuran.
Adapun jika menjumpai terjadi bencana alam di lingkungannya, warga diminta untuk bisa segera melaporkannya kepada satuan perlindungan masyarakat penanganan bencana (Satlinmas PB) di tingkat desa, yang akan diteruskan ke unit operasional PB di tingkat kecamatan, serta Satlak PB di tingkat kabupaten.
"Dengan secepatnya memberikan laporan tersebut, lembaga-lembaga penanganan bencana itu dapat segera melangkah guna memberikan bantuan," tambahnya.
( Henry Sofyan / CN27 )