
Semarang, CyberNews. Aparatur Pemkot Semarang, utamanya camat dan lurah wajib bersiaga 24 jam terkait dengan tngginya curah hujan pada beberapa hari terakhir ini. Hal tersebut diinstruksikan Wali Kota Soemarmo HS, di depan camat dan lurah dalam rapat koordinasi penanggulangan bencana di Gedung Moch Ihsan lantai 8, , Senin (27/9).
Para camat dan lurah tersebut diminta untuk tidak meninggalkan rumah dinasnya. Selain itu, telepon selular mereka juga tidak boleh dimatikan. "Jangan sekali-kali tinggalkan lokasi. Kalau melihat kondisi cuaca yang gelap, camat dan lurah harus stand by. Jangan bepergian ke mana pun, termasuk jangan meninggalkan rumah dinas," kata Soemarmo.
Soemarmo menuturkan, kesiagaan camat dan lurah selama 24 jam itu dilakukan semata-mata sebagai bentuk pelayanan terhadap masyarakat. Apabila terjadi atau ada laporan bencana, tentunya camat dan lurah bisa langsung berkoordinasi dengan jajaran teknis lainnya termasuk dengan Wali Kota.
"Handphone untuk sekarang ini jangan sampai dimatikan. Kalau tidur pun tetap harus nyanding handphone. Saya tidak ingin camat dan lurah justru terima laporan paling terakhir. kalau seperti itu membuktikan tidak bisa bekerja," tegas dia.
Selain itu, Soemarmo juga meminta kepada masyarakat untuk tetap waspada pada perubahan cuaca sekarang yang saat ini terbilang cukup ekstrim. Tentu saja, kewaspadaan tersebut tidak disertai dengan kecemasan. "Kewaspadaan itu dengan memantau kondisi lingkungan sekitar. Jangan sampai kita lengah dalam penanganan bencana, terutama bagi daerah yang rawan banjir maupun longsor," ungkap dia.
Posko Penanggulangan
Selain meminta segi kesiapsiagaan, Soemarmo turut meminta adanya posko penanggulangan bencana. Hal ini bisa dimulai dengan pemetaan daerah rawan bencana seperti banjir dan longsor. "Data ini saya minta betul-betul akurat dan update. Dengan data tersebut bisa membantu kita untuk mencari solusi ketika terjadi bencana," tandasnya.
Kepada beberapa dinas, semisal PSDA dan DPU, wali kota memerintahkan supaya memprioritaskan pengerukan saluran, sedimen, pada titik-titik rawan genangan. Dengan optimalisasi saluran tentunya setiap ada genangan akan cepat surut. Selain itu, ia juga meminta agar segera dibentuk satgas yang mampu bergerak cepat sehingga bisa memecahkan masalah dengan cepat.
Misal, satgas untuk membersihkan gorong-gorong ataupun saluran agar tidak mampet, sedangkan kepada dinas Penerangan Jalan dan Pengelolaan Reklame (PJPR) dibebani tugas mengawasi konstruksi papan-papan reklame yang keberadaannya rawan roboh seperti saat ini.
( Dicky Priyanto / CN26 )