
Semarang, CyberNews. Menempuh jarak ratusan kilometer dengan mengayuh sepeda bagi sebagian orang itu ide gila. Tapi tidak demikian dengan Iman (44). Pria asli Salatiga ini, nekat mudik dengan bersepeda hanya untuk memuaskan rasa penasaran.
Ditemui sedang menuntun sepeda di tanjakan Jl S Parman, Minggu (19/9) siang, Iman mengaku berangkat dari Jakarta, Jumat (17/9) kemarin sekitar pukul 04.00 WIB. Sengaja memang ia mudik ketika sebagian besar warga perantau justru jauh-jauh hari sudah balik dari daerah asalnya ke Jakarta.
‘’Menunggu bos-bos balik, baru giliran saya mudik,’’ kata Iman yang berprofesi sebagai satpam di salah satu perumahan elit di Kramat Jati, Jakarta Timur.
Alasan ia nekat mudik naik sepeda, selain ingin memuaskan rasa ingin tahu, adrenalinnya terpacu karena tertantang oleh rekan-rekannya. Mungkin tidak, pria yang telah 16 tahun merantau di ibu kota ini bisa sampai di kota kelahirannya hanya dengan mengayuh sepeda gunung.
Ternyata tantangan itu dibuktikannya. Sepeda gunung seharga Rp 3,5 juta itu mampu mengantarkannya dari Jakarta menuju kota dimana orangtuanya tinggal. Tak berlebih bekal yang dibawanya, dengan mengenakan baju khusus bersepeda, pakaian, kotak P3K, kunci-kunci ban cadangan, pompa, hingga gotri, menjadi perlengkapan standar yang ditempatkannya di tas ransel.
Selain itu, hanya tas cangklong kecil berisi uang dan kelengkapan keamanan bersepeda. Tak lupa, agar aman di jalan raya, bendera merah putih ditancapkan di rangka belakang, dan secarik kertas bertuliskan ‘Mudik ber Sepeda Jakarta-Salatiga’ ditempelkan di setang.
Menurutnya, pengalaman mudik dengan bersepeda baru kali pertama dilakoni. Apakah mudik naik sepeda jauh lebih irit? ‘’Justru boros, sampai siang ini saya udah habis Rp 300.000. Pengeluaran terbesar banyak terserap untuk keperluan makan,’’ ungkapnya.
Dibanding dengan naik bus, untuk beli tiket paling hanya Rp 100.000, pengeluaran sebesar itu memang terbilang besar. Kenapa hanya untuk makan bisa habis sebesar itu? Ternyata si bos (atasan), asli dari Padang berpesan agar ia makan di rumah makan Padang. "Alasannya agar tidak sakit perut," kata Iman sambil terkekeh, mengamini permintaan si bos.
Kendati habis banyak, ketika akan berangkat mudik ia diberi uang saku si bos sebesar Rp 200.000. Iman mengaku, mudik naik sepeda sungguh perjuangan yang besar.
Kontan saja, selain membutuhkan kesabaran karena harus ‘berhadapan’ dengan berbagai kendaraan bermotor pemudik lain, dibutuhkan daya tahan yang luar biasa.
Melintasi jalur Pantura, ia hanya dua kali beristirahat yakni ketika di Cirebon dan Pemalang. Pom bensin menjadi pilihan tempat untuk bermalam. Menurutnya, tanjakan sepanjang Jl S Parman hingga Jl Gajahmungkur merupakan medan terberat, ketimbang tanjakan di Alas Roban.
Sambil terengah-engah, terpaksa sepeda dituntun. Begitu jalanan sudah datar, ia kembali mengayuh sepeda. Sesampainya di Salatiga, ternyata ia tak berniat membawa sepeda itu sampai ke rumah.
"Kuatir membuat ibu was-was, sepeda nanti saya titipkan di rumah teman," katanya, yang akan balik dengan bus sedangkan sepedanya dinaikkan truk.
( Hartatik / CN13 )