
Semarang, CyberNews. Perluasan lahan tebu di sejumlah daerah sebagai salah satu upaya menuju Jateng swasembada gula pada tahun 2013 belum berjalan sesuai yang diinginkan. Kalangan DPRD Jateng memprediksi, target swasembada gula pada 2013 yang dicanangkan gubernur terancam mundur.
Berbagai latar belakang pun menjadikan petani masih kurang bersemangat menanam tebu. Seperti harga gula yang belakangan tak menentu akibat banyaknya gula impor maupun rendemen tebu yang rendah sehingga pembelian tebu pun tak senilai investasi dan perawatannya.
Anggota Komisi B DPRD Jateng Istajib AS mengakui upaya pemerintah menuju swasembada gula sudah cukup baik. Namun begitu, di tingkat bawah terutama di petani tebu, penanaman masih banyak mengalami hambatan. "Akibatnya perluasan lahan tebu pun kurang optimal. Bagaimana bisa swasembada gula bila lahan tebu saja sulit bertambah," katanya.
Menurutnya, meski ada tren kenaikan luasan lahan tebu, namun masih terbilang lambat. Dijelaskan, pada tahun 2010 ini Jateng juga mendapat alokasi gula impor sebanyak 5 ribu ton. Menurutnya, bila kebijakan impor hanya untuk memenuhi kuota kebutuhan gula masih bisa dimaklumi.
Anggota Komisi B lainnya, M Rif'an meminta Pemprov melakukan kajian mendalam terkait swasembada gula pada tahun 2013. Salah satunya adalah dengan koordinasi intensif dengan pemerintah daerah, perusahaan penggilingan tebu, dan juga petani tebu.
Menurut Rif'an, kebutuhan gula di Jateng mencapai 360 ribu ton per tahunnya. Produksi gula lokal saat ini baru mencapai 280 ribu ton sehingga masih terjadi kekurangan. Guna menutupnya, pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan impor gula.
Hal serupa juga dialami PT IGN sampai saat ini masih belum mampu memenuhi bahan baku tebu untuk mendukung kapasitas produksi pabrik gula. Khusus untuk PT IGN masih diperlukan sedikitnya 3.000 ha lahan tebu di wilayah Kendal dan sekitarnya.
Menurut Direktur Utama PT IGN, Kamadjaya, saat ini lahan yang disewa maupun dikelola sendiri oleh IGN untuk ditanami tebu baru mencapai 440 ha. Sementara dari lahan petani yang ditanami tebu baru mencapai sekitar 300 ha saja.
"Padahal kapasitas produksi pabrik mencapai 30 ribu ton per harinya dan tahun ini kami hanya bisa memproduksi sekitar 2 ribu ton saja per harinya. Pasokan bahan baku tebu dari petani masih sangat kurang," katanya.
( Saptono Joko Sulistyo / CN26 )