
Wonosobo, CyberNews. Tubuh Boniat gemetar. Badannya kurus. Saat diajak bicara, suara yang keluar dari mulut pemuda 21 tahun itu juga gemetar. Sehari-hari, penduduk Dusun Sigug RT 4 RW 5, Desa Kedalon, Kecamatan Kalikajar itu hanya terbaring di tempat tidur di rumah orang tuanya yang hanya berdinding papan dan berlantai tanah.
Terkadang, saat sakit di perutnya terasa, dia hanya bisa duduk membungkuk di tempat tidur, menahan nyeri. Sudah sekitar 2 tahun, Boniat mengalami sakit parah.
Menurut diagnosa dokter, pemuda itu menderita kanker usus. Niat berobat agar sembuh, terhalang kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan. Muhadi (75), ayah Boniat, hanya seorang buruh tani berpenghasilan minim.
Tetangga sekitar, sudah berusaha menolong dengan mengumpulkan dana. Total, terkumpul uang Rp 5 juta. Namun jumlah itu belum mencukupi, untuk bisa menyembuhkan penyakit yang diderita Boniat. Keluarga kini berharap, ada dermawan yang bersedia menolong, demi kesembuhan Boniat.
Kades Kedalon Agus Manto menuturkan, tahun 2008, saat bekerja di Jakarta, Boniat didiagnosa sakit kanker usus. "Oleh majikannya, dia kemudian dibawa ke rumah sakit, lalu dioperasi," katanya, Senin (7/9). Tapi belum sampai sembuh total, Boniat pulang karena tak enak hati dengan majikannya.
Setelah pulang, kanker usus Boniat kambuh. Karena kesulitan biaya pengobatan, Boniat tak mendapat perawatan medis yang memadai. Akibatnya, penyakitnya makin parah. Perutnya membesar. Boniat juga tidak bisa buang air besar dengan normal. Ia terpaksa membuang kotoran dari saluran buatan di perut.
"Sekarang, dia juga tidak bisa jalan. Kalau sakitnya kambuh, dia hanya bisa membungkuk di tempat tidur," kata Muhadi, ayah Boniat.
Beberapa waktu lalu, keluarga dibantu pihak desa membawa Boniat ke RSUD Wonosobo untuk diobati. Karena termasuk keluarga tak mampu, pengobatannya menggunakan kartu Jamkesmas. "Tapi alat untuk menyambung usus agar Boniat bisa normal lagi, harganya mencapai Rp 5 juta. Itupun alatnya tidak ditanggung Jamkesmas, jadi harus beli sendiri. Keluarga tidak mampu. Wong untuk makan sehari-hari saja sudah susah," ungkap Kades Agus Manto.
Boniat lalu dibawa pulang. Warga desa lalu berinisiatif membantu Boniat dan mengumpulkan dana, hingga diperoleh Rp 5 juta. Boniat lalu dibawa ke sebuah RS di Purwokerto, agar bisa dioperasi lagi. Namun dokter menyatakan, untuk bisa sembuh, Boniat butuh beberapa kali operasi.
"Kalau operasinya hanya sekali, belum bisa sembuh. Setelah sekali operasi, sekitar 2-3 bulan lagi harus dioperasi lagi. Dan lagi-lagi, alat untuk menyambung ususnya itu juga harus beli sendiri," jelasnya.
Bingung tak ada biaya, Boniat akhirnya dibawa pulang lagi. Kini, pemuda malang itu hanya mendapat perawatan seadanya dari keluarganya. "Kalau malam, saya tidak bisa tidur untuk menjaga dia," tutur Muhadi.
Dia juga menuturkan, untuk makan sehari-hari, anaknya masih mampu. "Tapi setelah 15 atau 30 menit, dia muntah. Terus seperti itu," katanya.
Tak heran, jika tubuh Boniat kini kurus kering, karena makanan yang masuk ke tubuhnya tidak bisa dicerna. "Saya harap, ada dermawan yang bisa membantu kesembuhan anak saya," imbuh Muhadi.
( Irfan Salafudin / CN13 )