
Majenang, CyberNews. Atap rumah panggung di Dusun Pekuncen, Desa Pahonjean, Kecamatan Majenang dibongkar warga, Kamis (26/8). Atap bangunan yang digunakan sebagai tempat evakuasi korban banjir itu runtuh Selasa dini hari (24/8). Warga terpaksa membongkarnya karena khawatir atap yang lapuk itu akan menimpa orang yang ada di dalamnya.
Kepala Dusun Pekuncen, Bahrudin mengatakan, atap itu runtuh sekitar pukul 01.30 dini hari. Kerangka kayunya patah dan ambruk. Adapun kerangka yang tersisa sudah lapuk dan melengkung. "Untung ambruknya malam hari. Coba kalau siang hari, pasti menimpa anak-anak yang lagi bermain di dalam," katanya.
Sekitar empat puluhan warga menurunkan genteng yang masih tersisa. Mereka juga membongkar sebagian kayu kerangka atap tersebut. Rencananya pembongkaran atap itu akan berlangsung Jumat (27/8).
Menurutnya, atap tersebut ambruk karena kerangkanya hanya berupa kayu glugu (kelapa), sehingga mudah lapuk. Selain itu, bagian tengah atapnya tidak ditopang pilar yang kuat. Padahal, luas atapnya mencapai 9 x 22 m2 dengan genteng yang tebal. Akibatnya, kerangka kayu tidak mampu menopang bobot atap tersebut.
Ketua Forum Penanggulangan Resiko Bencana (PRB) Desa Pahonjean, Sumarto menambahkan, rumah panggung itu dibangun pada 2003 silam. Bangunan tersebut merupakan bantuan dari Pemprov Jateng sebagai tempat evakuasi dan pengungsian korban banjir. Saat banjir melanda, rumah panggung dipakai untuk mengungsikan orang dan harta bendanya.
Namun saat situasi aman, bangunan itu dipakai untuk berbagai macam kegiatan. Diantaranya untuk rapat warga dusun, pengajian, bermain anak-anak, hingga berbagai pertemuan lainnya. Saat ini, kondisi bangunan sangat memprihatinkan. Selain atapnya roboh, kamar mandi dan toiletnya juga rusak. Adapun sumur yang ada di rumah panggung itu sudah sangat kotor.
Oleh sebab itu, masyarakat setempat berharap rumah panggung itu diperbaiki lagi. Mereka juga meminta agar konstruksinya diperkuat. Kemudian dibangun pilar di tengah bangunan sebagai penyangga atap agar tidak mudah ambruk.
Bangunan itu penting bagi mereka sebagai tempat mengungsi. Dusun tersebut merupakan salah satu wilayah rawan banjir di Desa Pahonjean. Sebelum rumah panggung dibangun, masyarakat terpaksa mengungsi ke jalan raya saat banjir melanda.
( Khalid Yogi / CN26 )