
Kebumen, CyberNews. Seribu satu macam bidang pekerjaan, dari jadi pengamen sampai jadi seorang presiden. Seribu satu macam cara orang mencari makan, dari menjual koran sampai menjual kehormatan.
Itulah sebait tembang berjudul "1001 Macam" buah karya raja dangdut H Rhoma Irama. Dalam lagu tersebut disebutkan, dari sekian banyak pekerjaan ada cara yang halal dan ada cara yang haram. Manusia dipersilakan memilih cara mana. Namun perlu diingat semua cara ada tanggung jawabnya di hadapan Tuhan.
Salah satu pekerjaan yang langka adalah yang digeluti oleh Asrori (48). Sudah sekitar 30 tahun warga Desa/Kecamatan Petanahan, Kebumen itu menjalani profesi sebagai tukang servis sadel sepeda onthel.
Dengan profesinya itu, Asrori mampu menghidupi keluarganya, bahkan mampu menyekolahkan kedua anaknya hingga tamat SLTA. Keduanya saat ini sudah bekerja di perusahaan luar kota. "Kerja apa saja yang penting halal, mas," ujar Asrori saat ditemui Suara Merdeka di bengkelnya, beberapa waktu lalu.
Di sebuah rumah sederhana yang terletak sekitar 200 meter sebelah selatan Pasar Petanahan, Asrori menservis sadel sepeda milik para pelanggannya. Rata-rata sadel sepeda yang diperbaiki merupakan sadel sepeda kuno yang terbuat dari kulit. Perbaikan yang dilakukan oleh Asrori, mulai dari mengganti per hingga mengganti kulit sadel.
"Kesulitannya, ketika harus mengganti per asli yang sudah tidak diproduksi, terpaksa harus mencari per ke penjual barang-barang bekas," imbuhnya.
Untuk bahan baku kulit, dia menggunakan kulit lembu yang dipasok dari Kebumen dan Tegal. Kulit tersebut dibentuk sesuai bentuk sadel secara manual tanpa sentuhan mesin sedikit pun. Termasuk saat menyambung potongan kulit, dia menjahit dengan tangan. Namun begitu jahitan yang dihasilkan sangat rapi seperti jahitan mesin.
Untuk jasa pembuatan kulit sadel dia memperoleh imbalan Rp 75.000. Sedangkan jika hanya servis dipatok Rp 35.000. Dalam sehari rata-rata dia mengerjakan tiga sadel.
Selain sadel, Asrori juga membuat dompet kulit untuk asesoris sepeda yang dijual Rp 50.000/biji. "Semua kulit sadel yang saya buat merupakan pesanan dari pelanggan," imbuhnya.
Di kalangan pecinta sepeda tua, Asrori cukup terkenal tidak hanya di Kebumen melainkan sampai luar kota. Lihat saja, pelanggannya yang mayoritas para penjual dan pemilik sepeda kuno berasal dari berbagai kota. Antara lain Cilacap, Purwokerto, Semarang, Solo, Yogyakarta, dan Solo. Bahkan ada pula yang dari Jawa Barat dan Jakarta.
Memang Asrori sangat paham dengan model sadel dari berbagai merek dan jenis sepeda. Termasuk untuk sepeda yang sudah tidak dibuat pabrik. Misalnya sadel sepeda pria atau heren, berbeda dengan sadel sepeda wanita atau dames.
Dia mengaku keahliannya mengenai seluk beluk kulit dan membuat sadel sepeda berasal dari ayahnya yang berprofesi sebagai tukang membuat pakaian kuda. Namun saat ini orangtuanya yang sudah lanjut usia sudah pansiun. Terlebih saat ini, delman nyaris tidak ada karena digantikan angkutan modern, maka dia memilih membuat sadel sepeda.
"Lagian saya juga sudah agak kesulitan membuat pakaian kuda," tandasnya.
( Supriyanto / CN13 )