
Bandung, CyberNews. Penggunaan teknologi penginderaan jarak jauh melalui citra satelit harus segera diprioritaskan guna memantapkan kegiatan pengawasan laut Nusantara. Selama ini, upaya penggunaan teknologi itu terbentur oleh biaya sewa yang tinggi.
Menurut KSAL Laksamana TNI Agus Suhartono, yang memberikan kuliah umum di Kampus Unpad Bandung, Kamis (19/8), citra satelit merupakan solusi efektif terutama akan luas lautan Indonesia, terutama terhadap deteksi masuknya kapal asing secara ilegal. Anggaran TNI tidak sanggup untuk mengaksesnya karena terbentur oleh kebutuhan lain seperti pemeliharaan alutsista. Selama ini pun, mereka hanya melakukan pengawasan di jalur-jalur yang dianggap strategis.
Untuk itu, Agus Suhartono mengusulkan sinergi termasuk menyewa citra satelit diantara instansi yang mengurusi laut melalui Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) RI. Kelebihan citra satelit adalah sanggup memonitor pergerakan kapal di laut baik ikan maupun kapal perang, dan objek bergerak lainnya di permukaan. Sejauh ini, opsi tersebut masih sebatas pembahasan.
Dia pun menyebut bahwa kasus penangkapan tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan oleh pihak Malaysia harus menjadi pembelajaran. Itu mencakup prosedur yang harus dilakukan terkait kejadian tersebut. Dia yakin prosedur yang benar akan menghindarkan peristiwa serupa.
Terkait kasus tersebut, TNI AL mengaku tidak bisa menerima perlakuan petugas dari negara tetangga itu. Meski demikian, mereka mendukung langkah pemerintah dengan melayangkan protes diplomatik kepada Pemerintah Malaysia. "Kita memang sangat tersinggung karena petugas kita yang ditangkap mereka. Tidak seharusnya seperti itu. Tapi ke dalam kita harus menata kembali apa yang mesti dilakukan penegak laut," jelasnya.
( Setiady Dwi / CN14 )