
Kudus, CyberNews. Film Upin dan Ipin yang populer di kalangan anak-anak, menginspirasi Istaidah (35), warga Desa Padurenan, Kecamatan Gebog, Kudus, untuk memproduksi baju koko bermotif dua bocah asal Malaysia itu.
Hasilnya pun cukup mencengangkan. "Sejak ramadan lalu, kami memproduksi baju motif Upin Ipin sebanyak 300 potong per minggu. Tanggapan pembeli ternyata positif, pakaian itu laris terjual," ujar ibu dari tiga anak itu.
Pakaian itu dijual secara paket, yaitu celana, baju koko, dan kopiah. Harga dipatok bervariasi, mulai Rp 30 ribu-Rp 60 ribu, tergantung bahan kain dan ukuran baju. Warna yang ditawarkan beragam, mulai merah, hijau, kuning, dan lainnya.
Ide cemerlang mengangkat tema film asal negara tetangga itu membuat produksi baju bermerek "Al Forqon" ini bisa menembus pasar-pasar besar. Tak hanya di Kabupaten Kudus saja, namun juga di Pati, Bojonegoro, Tuban, dan kota-kota besar lain.
Kegigihannya berkecimpung di industri konveksi jadi tidak hanya menguntungkan bagi Istaidah saja. Istri dari Forqoni ini bisa memberdayakan warga setempat untuk menjadi karyawannya yang kini berjumlah 20 orang. ''Kalau omzet penjualan dalamkondisi normal Rp 5-6 juta per minggu. Namun dengan produksi Upin Ipin penjualan meningkat menjadi Rp 15-20 juta per minggu," ujar perempuan lulusan MTS yang telah menekuni bisnis konveksi selama 9 tahun terakhir ini.
( Adi Prianggoro / CN12 )