
Solo, CyberNews. Masyarakat yang tergabung dalam Komunitas Peduli Cagar Budaya Nusantara (KPCBN) Solo terus mengawal perselisihan terkait Benteng Vastenburg. Mereka turut menelusuri arsip dan sejarah Benteng itu ke Belanda.
Caranya, KPCBN mengirim permohonan kepada Kedutaan Belanda mengenai Benteng Vastenburg dan meminta bantuan LSM mencari arsip di perpustakaan besar Leiden, Belanda. Menurut Presidium KPCBN HM Sungkar, pihaknya tidak mengingikan kawasan Benteng akan dikomersialkan. Mengingat, beberapa lahan di kawasan cagar budaya itu sudah menjadi pusat bisnis dan perkantoran, diantaranya Pusat Grosir Solo (PGS), Beteng Trade Center (BTC) dan Bank Danamon. “Kawasan Benteng harus dilestarikan sebagai cagar budaya. Karenanya, kami tidak menginginkan di lokasi itu dikomersialkan lagi,” kata Sungkar, Sabtu (6/8).
Pria berkacamata itu menyatakan bahwa KPCBN telah meminta LSM budaya di Belanda untuk menelusuri arsip dan sejarah menyangkut Benteng. Sehingga, jika pencarian itu berhasil ditemukan, maka hal itu bisa dijadikan sumber untuk membangun Benteng Vastenburg. “Bisa dikatakan, usaha yang kami lakukan ini juga membantu pemerintah agar mengembalikan status Benteng. Jadi, HGB yang saat ini dimiliki perorangan bisa dikembalikan ke pemerintah kemudian dibangun menjadi tempat wisata yang bagus,” jelasnya.
Lebih lanjut, menurut Sungkar, keberadaan Benteng itu sudah tidak mencerminkan sebagai aset cagar budaya. Sebab, kondisinya sangat tidak terawat. Apalagi, bentuk temboknya kotor dan ditumbuhi tanaman merambat.
Belum lagi, lanjut dia, kayu yang berada di dalam Benteng sudah berubah. Menurut Sungkar, dulunya kayu itu merupakan kayu jati kuno yang tentunya sangat awet dan kuat. “Namun, saat ini sudah tidak ada lagi entah ke mana. Padahal, cagar budaya harus dirawat, sedangkan Benteng Vastenburg tidak mencerminkan pada kondisi itu (Cagar budaya, Red),” ungkap dia.
( Arif M Iqbal / CN27 )