
Magelang, CyberNews. Meski termasuk industri rumah tangga, namun usaha pembuatan alat musik tradisional yang dirintis M Darori (51) terbilang luar biasa. Omzet Darori dalam sebulan mencapai ratusan juta rupiah.
Berbagai alat musik tradisional yang dibuat Darori di antaranya terbang, kendang, gending, gotek, bas, marawis, dan juga remo. Sehari paling tidak Darori mampu membuat dua set terbang (empat buah) dan empat buah bas.
Jika dihitung dalam sebulan warga Dusun Salehan, Desa Salam, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang ini mampu membuat sekitar 360 buah alat musik. Ini belum termasuk alat music yang kecil seperti gotek dan marawis.
Satu buah terbang dengan bahan kayu nangka dihargai Rp 300 ribu di tingkat perajin. Sementara bahan kayu mangga seharga Rp 250 ribu. Dengan harga ini, sebulan omzet Darori mencapai kisaran Rp 90 juta sampai Rp 100 juta.
Uniknya, Darori belum memiliki pabrik. Ia hanya memanfaatkan pekarangannya yang kosong untuk memotong kayu dan pengecatan serta finishing. Sementara untuk pengeringan kulit sapi dan kambing sekaligus pemasangannnya Darori memanfaatkan bantaran Kali Krasak.
Ia membuat gubuk kecil untuk bengkel kerja serta menyimpan barang produksinya. Darori dibantu delapan orang untuk mengerjakan kerajinan terbang miliknya. Hampir semua karyawannya tersebut merupakan keluarga terdekatnya, mulai anak, keponakan sampai famili.
"Semua yang bekerja pada saya masih merupakan famili karena ini memang usaha keluarga. Saya mewarisinya dari ayah saya alm Muhammad Iksan kelak akan saya wariskan kepada anak-anak saya," ujar Darori sambil memasang kulit pada terbang, Selasa (3/8).
Menurut Darori usaha ini dirintis oleh alm Iksan sekitar tahun 1960-an. Saat itu, masyarakat kesulitan mereparasi terbang dan alat musik lainnya yang rusak. Akibatnya, mereka harus ke daerah lain untuk memperbaiki terbang.
Peluang bisnis ini ditangkap dengan baik oleh alm Iksan dan Darori. Darori yang saat itu masih anak-anak ikut merintis usaha tersebut. Dari awalnya sekedar melayani reparasi mereka akhirnya bisa membuat terbang dengan kualitas terbaik.
Hebatnya, Darori mampu membuat macam-macam nada secara otodidak. Karena tidak ada orang yang mengajari, mereka pun mempelajari nada terbang secara mandiri. Meski demikian hasilnya sangat bagus.
"Kualitas terbang keduanya pantas diacungi jempol. Di Kabupaten Magelang tidak ada perajin yang sanggup membuat terbang lebih baik dari mereka. Baik kualitas bahan maupun nadanya," kata tokoh masyarakat Salam Susanto.
Hal ini karena Darori hanya menggunakan kayu kualitas terbaik. Kayu yang ia gunakan ada dua jenis yakni kayu nangka dan mangga. Sebulan paling tidak Darori menghabiskan 18 batang pohon nangka di mana perbatang dibeli seharga Rp 2,5 juta.
( MH Habib Shaleh / CN13 )