
Kuala Lumpur, CyberNews. Lima mahasiswi Pendidikan dan Latihan Pariwisata (PLP) Mengwitani, Mengwi, Badung, Bali diduga menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking). Saat ini, kelimanya ditampung di shelter penampungan TKI bermasalah KBRI Kuala Lumpur.
Mereka mengaku, awalnya dijanjikan untuk dipekerjakan di sektor perhotelan sesuai skill mereka. Namun ternyata, kelimanya dijadikan buruh di salah satu pabrik elektronik di Pulau Pinang, Malaysia.
"Kami dijanjikan akan dipekerjakan di hotel Ritz Carlton dan perusahaan pariwisata Pangkor laut. Tapi ternyata dijadikan buruh di pabrik Sony, Pulau Pinang" terang Nyoman, salah satu korban.
Tak hanya itu, dua bulan awal mereka bekerja, kelimanya tak mendapatkan gaji. "Bulan April dan Mei kami tak diberi gaji, baru bulan Juni kami terima gaji 700 ringgit" tambah Nyoman.
Diceritakan, awal keberangkatan mereka ke Malaysia berdasarkan informasi dari pihak kampus, bahwa beberapa hotel dan perusahaan pariwisata di Malaysia memerlukan tenaga profesional. Pihak kampus memberikan dorongan kepada mereka dengan memberikan cuti tiga selama tahun dan bekerja di Malaysia.
Setelah beberapa mahasiswi, menyatakan ketertarikannya, mereka dihubungkan dengan agen perseorangan, Samuel. Untuk keberangkatan ke Malaysia, Samuel meminta kelimanya untuk membayar Rp. 10,5 juta per-orang yang katanya uang itu digunakan untuk pendidikan, tiket pesawat, airport tax dan lain-lain.
Sementara, Direktur teguh Sarjana Bumi Sdn Bhd, Nur Masayu Puteh yang dipanggil KBRI berkait kasus tersebut menyatakan keterkejutannya dengan pengakuan kelima mahasiswi tersebut.
"Kami juga merasa ditipu Samuel, karena kami memang meminta tenaga kerja di bidang elektronika," tutur Nur Masayu.
( Tmp / CN26 )