
Bandung, CyberNews. Kesiapan daerah menghadapi datangnya bencana terutama gempa masih jauh dari harapan. Penelitian LIPI selama empat tahun terakhir menunjukan kondisi tersebut. Delapan daerah jadi sasaran penelitian yakni Aceh Besar, Padang, Bengkulu, Serang-Banten, Cilacap, Ternate, Maumere, dan Biak.
Hasil penelitian antara rentang 2006-2010 itu juga menempatkan kekurangsiagaan anak sekolah yang rendah. Lima hal yang dijadikan bahan pemetaan mencakup soal pengetahuan dan sikap, rencana tanggap darurat, sistem peringatan dini, policy statement, dan mobilisasi sumber daya manusia.
"Adanya banyak korban dalam gempa Padang beberapa waktu lalu juga seolah menjadi bumerang terhadap upaya sosialisasi menghadapi bencana. Dengan kondisi ini, modal tahu dan paham saja belum cukup," tandas Irina Rafliana Community Preparedness (Compress)–LIPI di sela-sela di Kampus ITB Bandung, Rabu (14/7).
Khusus anak sekolah, Irina menjelaskan bahwa itu terdeteksi secara sederhana. Pengelola sekolah tidak pernah memasukan jaminan keselamatan anak-anak selama di lingkungan kegiatan belajar mengajar berada di bawah tanggung jawabnya.
"Keberadaan badan penanggulangan bencana daerah juga diharapkan tidak selalu terjebak kepada penanganan pasca bencana, tapi menyeimbangkan pula rencana aksi pada kegiatan pra-bencana," jelasnya.
Ahli Tsunami ITB, Dr Hamzah Latief mengusulkan pembuatan peta resiko kerentanan guna melengkapi peta bencana yang cenderung menjadi fokus garapan selama ini. Peta resiko kerentanan itu di antaranya bisa mencakup infrastruktur seperti bendungan, atau pembangkit listrik terhadap getaran gempa misalnya.
Menurut dia, langkah tersebut harus mulai dilakukan karena ancaman yang dihasilkan berpotensi menimbulkan efek yang bisa jadi tidak pernah dibayangkan sebelumya. "Kita mesti mulai mengidentifkasi critical facilities yang ada," tandasnya.
( Setiady Dwi / CN26 )