
Pekalongan, CyberNews. Sejumlah nelayan di Kota Pekalongan khawatir penghasilan mereka semakin terkikis sebagai dampak langsung Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL). Kenaikan TDL akan memicu kenaikan harga kebutuhan lainnya, terlebih es balok.
Bagi nelayan, es batu merupakan kebutuhan utama, selain bahan bakar dan kebutuhan pokok lainnya. Rofiq (30), nelayan asal Sarang Kabupaten Rembang mengatakan, sekali melaut, ia membutuhkan modal sekitar Rp 12 juta. Modal sebesar itu, sebagian besar dialokasikan untuk membeli solar dan es balok.
"Untuk pembelian es saja, biayanya sampai Rp1 juta lebih," terang ABK kapal Lintas Harapan, sesaat setelah menyandarkan kapalnya di tepi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kota Pekalongan, Selasa (13/7) petang. Dibutuhkan sekitar 150 liter solar dan 100 es balok dalam satu kali perjalanan.
Sementara itu, Min’an (50), nelayan asal Sarang Kabupaten Rembang menyatakan, sebelum kenaikan TDL, harga es balok sudah mengalami kenaikan. "Sebelumnya, es balok harganya Rp10.500 perbalok. Tapi harganya sudah naik menjadi Rp11.000 sejak Juni lalu," tuturnya.
Mereka khawatir, jika harga es balok mengalami kenaikan menyusul naiknya harga sejumlah bahan kebutuhan pokok, penghasilannya akan semakin terkikis. Pasalnya, kata Min’an, kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok tidak pernah berbanding lurus dengan pendapatan nelayan.
"Pendapatan kami tidak menentu," tukas Rohim (25), rekan Min’an. Jika hasil tangkapan ikan banyak dan harga ikan sedang bagus, mereka bisa mengantongi Rp500.000 perorang. “Kalau lagi sepi, selama enam hari di laut hanya dapat Rp100.000 setiap orang. Ngga bisa nutup kebutuhan. Itu pun, harga ikan selalu jatuh,” paparnya.
Para nelayan berharap, pemerintah bisa mengupayakan agar kenaikan TDL tidak merembet ke harga es balok. Karena jika harga es balok juga mengalami kenaikan, kehidupan nelayan akan semakin susah.
( Isnawati / CN13 )