
Jombang, CyberNews. Ada 4 tugas penting yang dipesankan Presiden SBY kepada jajaran pengurus baru PBNU hasil muktamar Makassar. Satu di antaranya adalah meredam radikalisasi berdimensi agama.
Hal itu dikatakan Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj pada peringatan haul ke-31 KH Bisri Syansuri di Pondok Denanyar Jombang, Minggu (13/6) malam. Sedangkan 3 tugas penting lainnya adalah menjembatani deal antarperadaban, mempertahankan NKRI, UUD 45 dan Pancasila, dan memperkuat civil society (masyarakat sipil).
Kiai Bisri Syansuri adalah rais am ketiga PBNU. Dia menggantikan KH Abdul Wahab Chasbullah, rais am PBNU kedua. Baik Kiai Bisri maupun Kiai Wahab adalah pendiri NU bersama KH Hasyim Asy'ari. Kiai Bisri adalah kakek Gus Dur dari garis ibu dan di kalangan kiai NU dikenal sebagai kiai ahli fiqih yang istiqomah dan tegas.
Kiai Said mengemukakan, 4 tugas penting yang dititipkan Presiden SBY kepada kepengurusan baru PBNU itu disampaikan ketika pengurus baru bersilaturrahmi ke Presiden SBY pada awal bulan Juni 2010 lalu. Dia menyatakan, bukan hal ringan mengemban amanat menjalankan keempat tugas itu.
Dia mengemukakan, untuk tugas deradikalisasi, NU sangat terbantu dengan materi ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah yang sangat menjauhi kekerasan. Menurutnya, warga Nahdliyyin sangat menentang gerakan kelompok radikal. Maklum saja, NU selama ini selalu mengedepankan nilai-nilai perdamaian.
"Warga NU tidak pernah kita ajari membuat bom. NU memang menentang kelompok radikal. Karena kelompok radikal ini sudah salah menafsirkan tentang (ajaran) agama," katanya.
Ada banyak faktor kenapa kelompok radikal itu banyak bermunculan di era sekarang. Faktornya sangat kompleks dan tak bersifat tunggal. Bisa saja kelompok radikal itu muncul karena kemiskinan, kemelaratan, faktor balas dendam, pendidikan agama yang parsial, dan lainnya.
Kiai Said mencontohkan, Amrozi, Mukhlas, dan lainnya pergi ke Malaysia untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit. Tapi, di Malaysia mereka bertemu dengan seorang tokoh yang memberikan doktrin tentang jihad.
Bahkan, katanya, Amrozi, Mukhlas, dan lainnya itu pergi berjihad ke Afghanistan berperang melawan Uni Soviet. Setelah perang usai mereka kembali lagi ke Tanah Air dengan tetap membawa doktrin jihadnya itu. "Ternyata tangan mereka masih gatal dan ingin melakukan aksi pengeboman. Akibatnya, saudara sendiri yang jadi korban," kata Kiai Said yang pernah nyantri di Pondok Lirboyo Kediri ini.
Kiai Said juga menolak adanya pandangan tentang benturan peradaban yang dikemukakan Samuel Huntington, seorang intelektual dari Amerika Serikat. Teori yang menyatakan adanya perang peradaban antara peradaban timur dan barat, antara peradaban muslim dan non-muslim itu, kata Kiai Said, salah.
"Bukan benturan peradaban, tapi dialog peradaban. Dan insya Allah pada bulan Oktober 2010 nanti, NU menggelar dialog peradaban dengan titel ‘Global Peace’ di Jakarta. Dialog itu akan berlanjut di negara lainnya," jelasnya.
NU juga, katanya, tetap berkomitmen menjaga NKRI dan Pancasila. Hal itu telah ditegaskan NU dalam muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Pondok Salafiyah Syafi'iyah Situbondo, Jatim. Keutuhan NKRI yang berdasar UUD 45, Pancasila, dan Bhineka Tunggal Ika sudah sejalan dengan kepribadian bangsa Indonesia.
( Ainur Rohim / CN13 )