
Solo, CyberNews. Setiap tiga bulan, sebanyak 500 formasi kerja tidak terisi di berbagai daerah. Penyebabnya para pencari kerja tidak memiliki spesifikasi dan kompetensi yang dibutuhkan untuk mengisi lowongan pekerjaan yang ditawarkan.
"Informasi itu kami peroleh dari laporan resmi Dinas Tenaga Kerja kabupaten/kota se Indonesia. Tiga bulan sekali ada laporan ke Kementerian Nakertrans. Dari 1.600 formasi, yang terisi hanya 1.100," kata Yunani Rohaida, Kepala Balai Pengembangan Pasar Kerja, Kemenakertrans.
Dalam seminar Strategi Menerobos Persaingan Kerja yang digelar Fakultas Matematika dan IPA (MIPA) UNS, dia mengatakan dari 1.100 formasi yang bias dipenuhi tenaga kerja, itupun yang 400 tidak sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan.
"Jadi meski terisi namun kompetensi yang dicari belum sepenuhnya sesuai dengan yang diinginkan. Namun yang betul-betul kosong tidak terisi ada 500 formasi. Ini yang mestinya menjadi tantangan," kata dia.
Menurut Yunani, para calon sarjana hendaknya tidak sekadar memuaskan diri dengan bekal yang diperoleh dari kuliah. Dibutuhkan keterampilan lainnya, yang bias diperoleh dari tempat lain.
Balai Latihan Kerja (BLK) yang ada di setiap daerah sebenarnya membuka beberapa kursus tambahan yang disesuaikan dengan kompetensi. Dari situ, peserta mendapatkan tambahan pengetahuan dan keterampilan lainnya dan bersertifikat.
Tentang bursa kerja yang tidak terisi, dia mengatakan sebenarnya jika ada informasi yang bias diakses secara luas, bisa jadi formasi itu akan terisi. Namun keterbatasan akses yang mengakibatkan tak ada tenaga kerja yang memenuhi syarat. "Karena itu kemenakertrans bekerja sama dengan JICA Jepang memberikan fasilitas on line bagi Disnakertrans di daerah se Indonesia agar membuka bursa kerja yang bias diakses seluruh Indonesia," ungkapnya.
Program itu sudah dimulai tahun 2010 ini di 146 kabupaten/kota di Jawa, Bali, NTB, Sulsel, dan beberapa lainnya. Disnakertrans secara aktif meminta perusahaan di wilayahnya mengumumkan formasi lowongan kerja secara on line. "Dengan begitu, akses formasi kerja lewat bursa on line itu bias diketahui secara luas se Indonesia, sehingga siapapun bisa memasukkan, asalkan kompetensinya sesuai. Jadi bursa akan makin terbuka," lanjutnya.
Selain itu, daerah diharapkan juga membuat job market bekerja sama dengan industry di sekitarnya. Tak hanya itu perguruan tinggi juga bias melakukan, sehingga semakin bannyak sarjana yang akan ditampung. "Target kami, jika bursa kerja on line itu bias dipasang di 500 lebih kabupaten/kota di Indonesia, pengangguran bias ditekan di bawah 5 %. 2011 program itu diharapkan selesai," pungkasnya.
( Joko Dwi Hastanto / CN13 )