
Kulonprogo, CyberNews. Setelah seorang murid kelas satu SMU 2 Wonosobo, Jateng, Nur Hidayat (19), yang tenggelam bersama ombak pantai Glagah Indah, Rabu (13/4), dan jenazahnya hingga kini belum ketemu, Kamis (27/8), pantai andalan obyek pariwisata Kabupaten Kulonprogo ini menenggelamkan seorang murid SMP II Bendungan, Wates, Kulonprogo DIY.
Dia adalah anak kedua dari tiga saudara pasangan Ngabidin (45) Marningsih (43). Siswa kelas IX bernama Gus Madin Ashari (15) warga Desa Ngestiharjo RT 18 RW 07 Kecamatan Wates yang tak lulus Ujian Nasional (UN) dan masih menunggu pengumuman setelah UN ulangan tersebut bermaksud refreshing mencari udara segar di pantai laut selatan.
Bersama ketiga temannya yang juga satu group band di sekolah Danang Setia (15), Desta Drian Paratama (16) dan Andika Putra (15) mereka mandi diantara deburan ombak samudera Indonesia.
Sekretaris Posko Search And Rescue (SAR) Linmas Glagah Samsudin (35), Jumat (28/5), mengemukakan bahwa pihaknya menerima laporan tenggelamnya korban 45 menit setelah tenggelam pukul 16.30 WIB. ”Teman korban Desta dan Danang yang memberitahukan kalau Madin tenggelam,” katanya.
Berdasar keterangan dari kedua pelapor, dia menerangkan kedua pelapor bersama dua temannya sedang mandi di pantai. Pada saat asik bermain dengan ombak laut itulah keempat tali persahabatan itu mengadakan sayembara. Tidak main-main, mereka bertaruh dalam kesepakatan perlombaan. Barang siapa yang paling berani berenang di laut paling jauh ke tengah, dialah yang paling jago.
”Tanpa sadar mereka berjalan pelan-pelan menuju ke tengah laut. Akhirnya tubuh Madin digulung palung ombak laut,” terangnya.
Karena tubuh Madin masih kecil, akhirnya penggebug drum itu tergulung bersama derasnya ombak ganas. “Semula tubuhnya masih terapung di atas permukaan laut. Melihat hal itu Andika menunggui korban, sementara kedua temannya menghubungi tiem SAR,” tandasnya.
Lebih lanjut diungkapkannya, sejak kejadian tersebut, sore hingga malam itu juga 10 petugas tiem SAR diterjunkan menelusuri pantai. Dimulai dari TKP kearah barat hingga pantai Congot dan kearah timur sampai dermaga pantai Glagah. Tiem SAR juga mendirikan dua tenda posko di TKP. Turut membantu para anggota Polsek di Temon dan beberapa SAR DIY, Pol Airut, SAR Congot.
Para guru sekolah dari SMP II Bendungan, teman-teman korban pun datang ke TKP untuk sekedar melihat jejak tempat mandi temannya yang tenggelam terseret ombak laut selatan. Mereka mengaku amat menyayangkan tenggelamnya Gusmanudin, karena dia anak yang baik dan lucu.
Hingga berita ini diturunkan mereka masih terus mencari jenazah korban yang belum diketemukan. Diduga ia masuk ke dasar laut dan terkubur diantara pasir yang terdalam. Jenis gelombang semacam ini dari pengalaman tenggelam yang peranah terjadi, dimungkinkan tiga hari jenazah baru muncul. “Kalau tiga hari belum ketemu dan keluarga menghendaki untuk mencarinya, akan kami cari terus,” pungkasnya.
( Yudi Hadiyanto / CN12 )