
Jakarta, CyberNews. Kerja sama ekonomi antara China dan Indonesia yang telah dilembagakan dalam ASEAN China Free Trade Agreement (ACFTA) diyakini akan membawa manfaat bagi Indonesia.
Selain itu, DPR RI, dalam hal ini Komisi VI, juga sangat mendukung perlunya peningkatan kerja sama ekonomi antara Indonesia dengan China. "Hal itu terlihat dengan sikap DPR yang sangat mendukung peningkatan kerjasama ekomomi antara kedua negara. Namun saat ini masih memerlukan pendalaman dan akan ditindaklanjuti lebih dalam dengan prinsip kebersamaan dan kesetaraan," kata Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan usai menerima kunjungan delegasi Parlemen China di Gedung DPR Senayan Jakarta, Rabu (26/5).
Menurutnya, dengan pendalaman tersebut maka diharapkan akan ada titik temu mengenai permasalahan terkait dengan ACFTA. Taufik menambahkan, prinsip kebersamaan dan kesetaraan bisa mengatasi berbagai kendala dalam mengimplementasikan ACTFA.
"Mereka (delegasi Parlemen China-Red) berharap tidak langkah tendensius yang bisa menghambat ACFTA. Tentunya, setelah ini akan ada tindaklanjut pihak eksekutif kedua negara," ujarnya.
Sementara Ketua Delegasi Parlemen China Zhou Tienong menyatakan, kunjungannya akan semakin membuat kerjasama kedua negara, utamanya kerjasama antara parlemen, meningkat.
Dalam kesempatan itu, Zhou juga menegaskan dukungannya pada pelaksanaan ACFTA. Menurutnya, ACFTA adalah zona perdagangan bebas terbesar di negara berkembang dan nilainya sangat besar. "Sejak diresmikan, ACFTA telah mengambil peran sebagai pendorong perekonomian perdangangan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sangat baik, semakin membuat China ingin meningkatkan kerjasama ekonominya," katanya.
Zhou berharap, situasi ekonomi dan politik Indonesia tetap stabil. Dia juga mengakui, hingga saat ini memang masih ada sejumlah permasalahan terkait pelaksanaan ACFTA. "Namun kami yakin hal itu bisa diselesaikan dengan baik," tegasnya.
Di tempat yang sama, Ketua Group Kerja Sama Bilateral (GKSB) DPR Albert Yaputra menegaskan, saat ini sudah tidak tepat lagi membicarakan perlu tidaknya ACFTA. Sebab, ACFTA sudah menjadi kesepakatan yang harus dipegang oleh kedua belah pihak.
"Bangsa ini sebaiknya berusaha mencari jalan untuk memecahkan permasalahan terkait ACFTA dibandingkan hanya berbicara mengenai masalah ACFTA itu sendiri. Kita mau solving the problem dan bukan hanya talking the problem. Bagaimanapun, ACFTA sudah menjadi kesepakatan pemerintahan sebelumnya," ucap politikus dari Partai Demokrat itu.
Dia menambahkan, saat ini pihaknya sedang bernegosiasi terkait kelonggaran-kelonggaran dari China yang menguntungkan Indonesia. Dia juga mengatakan, perdebatan mengenai ACFTA adalah hal yang wajar. Sebab, setiap kebijakan selalu menimbulkan pro dan kontra. Oleh karena itu, dia mengimbau segala kelebihanan dan kekurangan dari perjanjian kerjasama ekonomi itu harus tetap dipegang selama menguntungkan kedua belah pihak.
"Kita berharap ada kelonggaran dan bantuan dari China yang lebih menguntungkan kita," tandasnya. Dalam kesempatan itu, Albert membantah produk-produk China tidak memiliki standar.
Sebab, banyak produk China yang terbukti jauh lebih baik dibanding produksi negara-negara maju. Produk China yang dinilainya bertmutu tinggi antara lain adalah bahan woll, yang lebih baik dari buatan Italia. "Kita tidak bisa menyamaratakan semua produk China jelek. Tergantung kita, apakah akan menggunakan produk China yang bermutu bagus atau tidak," tukasnya.
( Saktia Andri Susilo / CN13 )