
Bandung, CyberNews. Sebanyak 30 pengamat yang belum lama ini direkrut, menjalani pendidikan dan pelatihan sebagai bekal guna melakukan monitoring terhadap masing-masing satu aktivitas gunung api yang menjadi tanggung jawabnya selama 24 jam setiap hari.
Di antara mereka ditempatkan di Piet Sagu (NAD), Marapi, Tandikat (Sumbar), Kerinci (Jambi), Anak Krakatau (Lampung), Tangkuban Perahu (Jabar), Dieng, Sindoro-Sumbing, Merapi (Jateng), Semeru, Ijen, Bromo, Raung (Jatim), Batur, Agung (Bali), dan gunung api di kawasan Indonesia timur yang berjumlah 14 buah.
"Terus terang saja, kami kesulitan merekrut tenaga pengamatan. Awalnya peminatnya banyak, tapi setelah dijelaskan deskripsi penugasannya banyak yang memilih mundur," jelas Kasubid Pengamatan Gunung Api Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Dr Agus Budiyanto di Bandung, Jumat kemarin.
Selain waktu yang terikat karena senantiasa mengamati aktivitas objek, lokasi Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) dipastikan berada jauh dari keramaian. PVMBG sudah berupaya mengatur jam kerja dengan sistem piket. Dengan demikian, petugas mendapatkan jatah pengamatan masing-masing selama 8 jam per hari. Tapi itu pun dengan catatan PGA minimal dilengkapi 4 personil.
Kondisi riil di lapangan, seperti dijelaskan doktor lulusan Prancis itu, rata-rata jumlah pengamat PGA kurang dari jumlah yang relatif ideal tersebut. Paling banter 3 orang. Dengan demikian, pihaknya mengaku sebenarnya jumlah tenaga pengamat masih jauh dari tataran ideal.
"Lokasi masih jadi kendala. Ambil contoh saja Gunung Api Wurlali di Indonesia timur, petugas pengamatnya hanya satu padahal ada 10 ribu KK yang tinggal di pulau gunung api itu," katanya.
Dijelaskan, menjadi pengamat gunung api memang tidak mudah. Tak hanya mesti cakap menganalisa instrumen, mereka juga harus mampu berperan sebagai ujung tombak saat terjadi letusan kepada masyarakat setempat
"Mereka yang menjadi pintu pertama saat masyarakat menanyakan informasi terkini. Mereka juga menjadi ujung tombak kami dalam mengambil keputusan penting, terutama saat melakukan pengamatan visual sebelum tim pusat datang ke lokasi untuk penanganan lebih lanjut," tandasnya.
( Setiady Dwi / CN13 )