panel header


OJO ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA
Jangan Sok Kuasa, Sok Besar, Sok Sakti
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
13 Mei 2010 | 21:16 wib
Regenerasi Pesindhen di Solo Memprihatinkan
image

Solo, CyberNews. Kota Solo selama ini dikenal sebagai salah satu pusat kehidupan kesenian tradisional Jawa ternyata memiliki problem dalam regenerasi seniman dan seniwati. Persoalan tersebut antara lain terjadi pada dunia pesindhen yang regenerasi ternyata memprihatinkan.

Dibandingkan dengan dua daerah tetangga yakni Sragen dan Wonogiri, keberadaan pesindhen di Kota Solo sangat jauh berbeda. Jika Sragen dan Wonogiri dikenal sebagai gudangnya para pesindhen maka di Kota Budaya justru sangat minim kalau tak bisa dikatakan langka.

"Kalau toh ada pesindhen biasanya mereka adalah para pendatang dari daerah lain yang kemudian menetap di Kota Solo," jar Bambang Murtiyoso, pengamat wayang yang juga Dosen Jurusan Pedalangan ISI Surakarta, Kamis (13/5).

Minimnya jumlah pesindhen di Kota Budaya itu semakin memprihatinkan ketika dalam hal regenerasi juga tak berbeda jauh kondisinya. Minat para muda yang ingin belajar waranggana sangat minim sehingga regenerasi menjadi hal yang sangat sulit untuk diwujudkan.
 
Faktor Penyebab
Menurut penuturan Bambang Murtiyoso, kondisi yang demikian disebabkan adanya beberapa faktor pendukung. Di antaranya karena perubahan pola hidup dan kultur masyarakat di Kota Solo yang semakin hari semakin banyak yang mulai meninggalkan kehidupan tradisi Jawa.

"Itu berbeda dengan daerah seperti Sragen dan Wonogiri. Di sana, budaya nggantung gong (menggelar karawitan atau pertunjukan wayang) masih sedemikian kuat. Khususnya dalam acara-acara tertentu seperti perkawinan dan yang lain," jelasnya.

Karena tradisi nggantung gong masih kuat maka tidak mengherankan jika daerah Wonogiri dan Sragen hingga sekarang masih tetap produktif menghasilkan generasi pesindhen.

Kondisi tersebut justru berbanding terbalik dengan Kota Solo yang karena perubahan kultur membuat regenerasi pesindhen menjadi memprihatinkan. "Adanya sekolah khusus yang bisa mencetak pesindhen di Kota Solo juga tak terlalu berpengaruh. Sebab yang bersekolah kebanyakan juga dari daerah luar Solo," tandas dia.

( Wisnu Kisawa / CN13 )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share

Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
05 September 2014 | 23:56 wib
Dibaca: 3827
05 September 2014 | 23:45 wib
Dibaca: 4155
05 September 2014 | 23:30 wib
Dibaca: 4011
image
05 September 2014 | 23:15 wib
Dibaca: 5144
05 September 2014 | 23:00 wib
Dibaca: 3826
Panel menu tepopuler dan terkomentar
 Berita Terpopuler
05 September 2014 | 23:15 wib
05 September 2014 | 23:45 wib
05 September 2014 | 23:30 wib
05 September 2014 | 23:56 wib
FOOTER