
Semarang, CyberNews. Perempuan paruh baya itu tak henti memandangi kios gerobaknya di Jalan Imam Bonjol, Jumat (30/4). Pandangan Suyekti (34), demikian ia akrab dipanggil, setengahnya kosong, sama halnya dengan kiosnya yang nyaris tak berisi. Dia seolah tak percaya, separuhnya trauma, oleh ulah para Bonek asal Surabaya, yang melakukan penjarahan
Kamis (29/4) sekitar pukul 01.00.
"Dua lajur jalan dipenuhi supporter bonek yang berjalan kaki, barangkali jumlahnya mencapai ratusan hingga ribuan. Mereka berteriak keras-keras. Semula saya kira mereka hanya lewat saja, namun ternyata berhenti di warung-warung di sepanjang jalan. Malam itu benar-benar mencekam," ujar Suyekti.
Tanpa basi-basi, ratusan orang yang sebagian besar memakai atribut tim kesebelasan Persebaya langsung melakukan penjarahan. Sasaran utama yang diambil adalah minuman, rokok, dan makanan. Meski barang dagangan itu ditunggui oleh pemilik warung dan beberapa bahkan ada pembeli, mereka tak peduli. "Saya tidak tahu persis berapa besaran kerugian, namun seluruh barang dagangan di kios nyaris ludes. Rokok, minuman, dan bahkan sampo juga ikut diambil," tuturnya.
Hal serupa juga dialami oleh Rini (42), pemilik kios kecil lainnya. ''Baru siang sebelumnya saya kulakan rokok senilai Rp 1,5 juta, tapi apes malamnya malah dijarah. Saya tidak bisa berbuat banyak, jumlah mereka terlalu banyak,'' ungkapnya.
Para pemilik warung memang "dibiarkan" tanpa dicederai, namun suasana tetap saja menegangkan. Tak hanya "merampok" warung, mereka juga menghentikan kendaraan dan orang-orang yang lewat. Bonek meminta uang ''sekadarnya'' dengan nada setengah memaksa. "Karena takut, saya akhirnya merelakan uang terakhir di kantong saya sebesar Rp 10 ribu," kata Romi (42), seorang tukang becak yang turut menjadi korban.
Kebrutalan para bonek yang sebagian besar masih berusia remaja ini juga menyimpan cerita bagi "penghayat kehidupan malam". Warung-warung yang menjadi tempat tongkrong para pecandu minuman keras sekaligus dijadikan sebagai tempat "karaoke jalanan" di sepanjang Jalan Imam Bonjol, malam itu kocar-kacir. Puluhan pengunjung warung yang dalam keadaan sempoyongan akibat pengaruh minuman keras terpaksa lari tunggang langgang. "Meski sebagian besar mabuk, seluruh pembeli yang sebelumnya nongkrong sambil minum-minum tetap memilih lari ke gang-gang di perkampungan. Mereka sangat ketakutan," ujar seorang perempuan pemilik warung yang enggan disebutkan namanya.
Seperti diketahui, ratusan ''Bonek'' asal Surabaya melakukan penjarahan di warung-warung di sepanjang Jl Imam Bonjol, di sekitar Stasiun Poncol, Kamis (29/4) sekitar pukul 01.00. Kejadian bermula ketika ratusan suporter tim kesebelasan Persebaya yang naik dengan kereta barang Parcel tiba di Stasiun Poncol, sekitar pukul 23.00. Kedatangan mereka dari Surabaya untuk menonton pertandingan tim kesayangannya yang bermain melawan Persik Kediri di Yogyakarta, Kamis (29/4) sore.
Mereka dapat diciduk setelah polisi melakukan penyisiran di sepanjang Jl Imam Bonjol dan Kawasan Pasar Johar. Sekitar pukul 03.00, ratusan bonek di bawa ke Mapolwiltabes Semarang untuk dimintai keterangan dan dilakukan pendataan.
Sebagian besar mereka yang terjaring masih remaja, berusia di bawah 18 tahun. Mereka memilih naik kereta api melalui Semarang karena menghindari lewat Solo, di mana para bonek ini pernah terlibat tawuran dengan warga Solo. Meski demikian, sebagian besar para bonek mengaku tidak mengetahui kalau ternyata tidak ada rute kereta api tujuan Semarang - Yogyakarta, tanpa melalui Solo.
( Adi Prianggoro / CN12 )