
Jakarta, CyberNews. Bank Pembangunan Asia (ADB) dan negara-negara ASEAN plus China, Jepang dan Korsel atau dikenal sebagai ASEAN+3 sepakat untuk membentuk fasilitas penjaminan kredit senilai 700 Juta dolar AS. Dengan adanya fasilitas tersebut, penerbitan obligasi Indonesia di pasar internasional bisa lebih murah. Pembentukan fasilitas penjaminan kredit itu dimaksudkan untuk mendukung stabilitas finansial dan mendorong peningkatan investasi jangka panjang di kawasan ASEAN.
Menurut Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Anggito Abimanyu, Credit Guarantee Investment Mechanism (CGIM) dalam fasilitas tersebut merupakan institusi yang didukung oleh ADB untuk memberikan jaminan kepada surat berharga swasta korporasi yang dijual di kaweasan Asean Plus 3 dalam denominasi mata uang mereka. "Dengan CGIM korporasi bisa memperoleh credit enhancement sehingga bisa menjual dan membayar (obligasi) dengan lebih murah. CMIG ini untuk memperkuat peringkat utang," katanya di Jakarta, Selasa (13/4) kemarin.
Dari total fasilitas penjaminan kredit tersebut, ADB akan menyokong 130 juta dolarAS, dan 570 juta dolar AS akan disokong negara-negara ASEAN plus 3. Dari total yang disokong ASEAN+3 itu, rinciannya adalah China berkontribusi 200 juta dolar AS, Jepang 200 juta dolar AS, Korsel 100 Juta dolar AS dan ASEAN 70 juta dolar AS.
Dewan Direksi ADB telah menyetujui kontribusi ADB ke Credit Guarantee and Investment Facility (CGIF) tersebut. Rencananya, percobaan CGIF akan dimulai operasionalnya pada 2011. CGIF akan memberikan jaminan untuk surat berharga berdenominasi mata uang lokal yang diterbitkan perusahaan-perusahaan di ASEAN. Adanya penjaminan ini akan membuat perusahaan-perusahaan semakin mudah menerbitkan surat berharga lokal dengan jangka yang lebih panjang. "Itu modal awal sehingga mereka bisa mengcover perusahaan atau corporasi yang dalam investment grade. Misalkan triple B atau A- bisa mendapatkan rating minimal triple A," jelas Anggito.
Diharapkan, hal ini bisa mengurangi ketidakcocokan antara mata uang dan tenor surat berharga, yang menjadi pemicu krisis finansial Asia pada 1997-1998. Fasilitas ini juga diharapkan bisa membuat sistem finansial ASEAN lebih tangguh dalam menghadapi gejolak aliran modal global dan guncangan eksternal. "CGIF akan memungkinkan perusahaan-perusahaan untuk menerbitkan surat berharganya di pasar domestik dan pasar negara tetangganya serta melintas ASEAN+3," ujar Noy Siackhachanh, penasihat ADB untuk kerjasama ekonomi regional dalam siaran persnya, Rabu (14/4).
( Kartika Runiasari / CN14 )