
Kajen, CyberNews. Pembatik Pekalongan optimis hadapi pasar bebas yang telah diberlakukan awal tahun ini. Pasalnya, batik asal Kota Santri bermotifkan pesisiran mempunyai nilai seni tinggi, sehingga mampu bertahan dari gempuran batik China. Menurut pengusaha batik asal Desa Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, H Ahmad Faelasuf mengutarakan, sebenarnya sebutan batik China itu tidak tepat, lantaran proses penggarapannya melalui mesin.
"Kain bermotif batik asal China itu lebih tepat disebut printing, mengingat produsksinya menggunakan mesin. Selain itu, nilai seninya tak ada dan China tak mempunyai SDM mengenai teknik batik," ujar pengusaha muda yang telah mendapatkan penghargaan sebagai pemuda pelopor nasional tersebut, Senin (5/3).
Karena itu, pihaknya mengaku optimis batik Pekalongan yang dikenal berani dalam menggunakan warna serta beragamnya motif itu akan mampu bertahan dari gempuran produk negara tirai bambu itu.
Akan tetapi, pembatik Kota Santri yang memproduksi batik printing merasa khawatir usahanya gulung tikar, karena untuk batik printing secara teknologi dan bahan baku negara China lebih unggul.
Pihaknya berharap kepada pemerintah supaya memperhatikan masalah tersebut. Hal demikian bisa dilakukan dengan mengeluarkan kebijakan untuk memproduksi bahan baku secara mandiri, sehingga bahan baku murah."Sekarang ini, harga bahan baku, seperti obat batik, benang, kain putih (mori) harganya masih mahal," ujar dia.
( Agus Setiawan / CN14 )