
Bantul, CyberNews. Nugroho Arini, Pelajar Kelas XII Jurusan IPA SMA Negeri 2, Kabupaten Bantul, Senin (22/3) terpaksa menjalani Ujian Nasional (UN) di tempat tidur bangsal Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Panembahan Senopati, Kabupaten Bantul, karena mengalami cidera dibagian punggung.
Cidera yang dialami pelajar ini, usai mengikuti pertandingan Karate di Bali. Dalam pertandingan itu, Arini mengalami cidera di bagian punggung. Ada trauma syaraf dibagian tulang belakang, sehingga perlu perawatan di rumah sakit.
Kondisi itu diketahui ketika Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Bantul melakukan sidak pelaksanaan hari pertama Ujian Nasional di wilayah Kabupaten Bantul. Selain itu, Fraksi PDIP juga menemukan salah seorang siswa tuna netra yang harus menyelesaikan Ujian Nasional dengan huruf Braille.
"Terjadi kecelakaan saat siswa tersebut mengikuti pertandingan karate di Bali. Arini mengalami cidera di bagian punggung. Ada trauma syaraf dibagian tulang belakang, sehingga perlu perawatan di rumah sakit," kata Totok Sudarto, Kepala Bagian, Sekolah Menengah Atas (SMA), Dinas Pendidikan Menengah dan Non Formal, Kabupaten Bantul.
Menurut Totok, pelajar yang mengikuti ujian nasional dirumah sakit tidak akan mendapatkan keistimewaan. Pelajar tersebut mengikuti ujian sesuai dengan waktu yang ditentukan seperti siswa lain yang mengikuti UN di sekolah-sekolah.
"Waktu untuk mengerjakan soal juga sama, pelajar yang mengikuti ujian UN di rumah sakit juga didampingi pengawas sebanyak dua pamong guru," katanya menerangkan.
Totok menyatakan, jumlah peserta UN di Kabupaten Bantul untuk SMA dan SMK sederajat mencapai 8.239 pelajar. Untuk pelajar SMA sebanyak 4.548 orang dan untuk SMK sebanyak 3.691 orang. "Hingga pukul 10.00 WIB belum ada laporan dari pihak sekolah yang menyatakan siswa tidak bisa mengikuti UN dengan alasan tertentu," katanya.
Sementara Basuki Rahmad, Ketua Fraksi PDIP, DPRD Kabupaten Bantul menyatakan, berdasarkan sidak di SMA Negeri 1 Sewon, Bantul pelaksanaan ujian berlangsung dengan lancer meski di SMA Negeri 1 Sewon terdapat satu siswa difable dalam hal ini tuna netra yang juga mengikuti UN. "Soal UN yang diberikan kepada siswa tuna netra sudah dalam bentuk huruf Braille. Kita sangat aprisiasi dengan pihak dinas pendidikan yang tidak membeda-bedakan antara siswa normal dengan siswa difable," ujarnya.
Menurutnya di Bantul ini pada UN tahun 2010 ini terdapat 21 siswa difable yang sekolah di sekolah formal dan beberapa siswa difable mengikuti Ujian Nasional dibeberapa sekolah sehingga dibutuhkan perhatian khusus dari guru pendamping seperti yang dilakukan kepada siswi SMA Negeri 1 Sewon.
Dia berharap nantinya setiap sekolah yang mempunyai siswa difable mempunyai guru pendamping sendiri, sehingga siswa tersebut selalu mendapatkan pendampingan dari guru pembimbing.
Tidak seperti saat ini, dimana guru pendamping harus berganti-ganti sekolahan untuk mendampingi siswa yang difable. "Kami berharap tahun-tahun berikutnya setiap sekolah mempunyai pendamping siswa difable," katanya.
Pelajar difable tersebut, bernama Rusdian Eka, pelajar Kelas XII, Jurusan IPS. Rusdian merupakan satu-satunya pelajar yang mengikuti UN dari 144 peserta UN di SMA Negeri 1 Sewon. "Rusdian mendapatkan pendampingan dari guru dan pengawas yang memang dikhususkan untuk mendampingi pelajar dengan keterbatasan atau difable," kata Subadi salah guru pendamping siswa difable di SMA Negeri 1 Sewon, Bantul.
Subadi mengaku pihaknya sebelum ujian nasional berlangsung juga telah mengajukan permintaan agar Dinas Pendidikan Provinsi memberikan soal ujian UN dengan huruf Braille. "Pihak Dinas Pendidikan Provinsi DIY telah menyiapkan soal-soal untuk pelajar dengan keterbatasan seperti soal dengan huruf Braille," katanya.
( Sugiarto / CN13 )