
Yogyakarta, CyberNews. Sungai bawah tanah (SBT) Bribin Kabupaten Gunungkidul merupakan salah satu SBT yang mempunyai potensi besar dan menjadi tumpuan pemenuhan air domestik masyarakat yang tinggal di kawasan karst Gunungsewu. Apalagi daerah itu dikenal sebagai daerah yang sulit air, karena aliran sungai mencapai 100 meter di bawah permukaan tanah sehingga sulit dimanfaatkan.
Beruntung, pengeboran dan pembuatan bendungan bawah tanah sistem mikrohidro di Gua Bribin diharapkan bisa meningkatkan kapasitas layanan distribusi air tanah karst menjadi dua kali lipat dari sebelumnya. Selain itu, dari proyek tersebut diharapkan adanya kelangsungan sumberdaya air tanah Bribin dalam waktu yang panjang.
Kendati begitu, penambangan karst oleh penduduk sekitar mempengaruhi suplai air di bawah tanah SBT Bribin. Padahal, kawasan karst merupakan kawasan berbatuan karbonat yang memiliki kandungan air melimpah. Kandungan air yang besar disebabkan karena adanya celah pada batuan, sehingga air dapat meresap jauh dan tersimpan dalam batuan.
Dalam penelitian Tjahyo Nugroho adji SSi MSc Tech, saat ini diketahui terdapat perbedaan agresivitas air tanah karst untuk melarutkan batuan gamping antara daerah hulu dan hilir sungai Bribin. "Pada musim kemarau, bagian hulu SBT Bribin menunjukkan air sudah tidak mampu untuk melarutkan batuan gamping. Sebaliknya, air SBT di bagian hilir mampu melarutkan batuan gamping," katanya dalam ujian terbuka promosi doktor di Fakultas Geografi.
Dalam disertasinya, Nugroho menjelaskan bahwa perbedaan sifat agresivitas tersebut disebabkan sifat pelorongan yang berbeda antara hulu dan hilir. Dengan tingkat pelorongan yang besar (''conduit'') sudah berkembang di Gua Bribin memungkinkan pencemar dengan bebas setiap saat dapat masuk ke SBT Bribin.
Dari sisi penyediaan sumberdaya air, tambahnya, Gua Bribin mempunyai pelepasan komponen rembesan (''diffuse'') yang perlahan-lahan dengan flukuasi yang kecil, sedangkan gua-gua lain di SBT Bribin umumnya mempunyai sifat pelepasan ''diffuse'' yang lebih cepat sehingga pada puncak musim kemarau debitnya sangat kecil terutama di Gua Gilap dan Gua Ngereng.
Kepada wartawan, Dia menyatakan bahwa pemanfaatan karst sebagai batu gamping perlu dievaluasi kembali untuk ketersediaan air dalam waktu lama. "Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya konservasi di permukaan daerah tangkapan hujan SBT Bribin," paparnya yang lulus ujian doktor dengan predikat cumlaude.
( Bambang Unjianto / CN13 )