
Jakarta, CyberNews. Kehadiran Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama diharapkan bisa menjadi jembatan antara dunia Barat dengan Islam atau Nasrani dengan Islam. Oleh karena itu, sudah seharusnya bila tokoh-tokoh Islam dan umatnya terbuka menerima kehadiran Obama.
"Sebab, dialog dan tukar menukar pengetahun, pengalaman, tradisi, pendidikan dan berbagai aspek kehidupan yang saling menguntungkan, harus terus menerus dilakukan oleh dua belah pihak," kata politikus dari Partai Kebangkitan Bangsa Effendy Choirie kepada Suara Merdeka, Selasa (16/3).
Dia menambahkan, Nabi muhammad SAW tidak pernah menolak tamu. Bahkan, Nabi memuliakan setiap tamu yang datang-Nasrani maupun Yahudi-baik yang bermaksud baik maupun jahat sekalipun. "Karena itu, menerima dan memuliakan kehadiran tamu menjadi bagian dari ajaran dan tradisi Islam itu sendiri. Apalagi, Obama adalah salah satu presiden di dunia ini yang menginginkan adanya dialog dan membangun saling pengertian antara peradaban Barat dengan Islam," ujarnya.
Dikatakan, sebagai negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia dan memiliki tokoh agama yang benar dan bervisi, sudah seharusnya bisa mengambil momentum kehadiran Obama. Para tokoh juga sudah seharusnya menjelaskan kepada Obama mengenai substansi Islam yang benar.
"Sebab, Islam kompatible dengan demokrasi, hak azasi manusia, lingkungan hidup dan perdamaian dunia yang abadi. Islam juga menghormati pluralisme, anti dan menolak terorisme serta cara-cara radikalisme dan anarkhisme," tandasnya.
Atas dasar itulah, kata dia, Islam dan pemeluknya siap bekerjasama, bersahabat dan menghormati siapapun. Terpisah, Sekretaris Fraksi Partai Persatuan Pembangunan M Romahurmuzy mengatakan, Obama sudah menunjukkan good will-nya menghapus masa lalu doktrin unilateralisme AS dengan menutup penjara Guantanamo.
"Obama juga menetapkan penarikan pasukan dari Irak serta mengunjungi beberapa negara di Timur Tengah dan kali ini ke Indonesia," tukasnya.
Terkait dengan penundaan kehadirannya di Indonesia, Romahurmuzy mengatakan hal itu bukan bentuk ketidakseriusan Obama. Sebab menurutnya, persoalan dalam negeri AS mungkin membutuhkan perhatian khusus. "Apalagi hal itu menyangkut janji kampanye Obama," imbuhnya.
( Saktia Andri Susilo / CN13 )