
Denpasar, CyberNews. Pulau Bali yang dihuni sekitar 3,6 juta jiwa penduduk dan ribuan wisatawan mancanegara maupun domestik yang sedang menikmati liburan, sunyi dan hening bagaikan tanpa penghuni saat umat Hindu menjalankan "Tapa Brata Penyepian" bertepatan Tahun Baru Saka 1932, Selasa (16/3).
Mereka mengurung diri di dalam rumah masing-masing untuk selama 24 jam guna melaksanakan empat pantangan meliputi Amati Karya atau tidak bekerja dan tidak menjalankan aktivitas lainnya, Amati Geni, yakni tidak menyalakan api maupun lampu penerang, Amati Lelungan tidak bepergian dan Amati Lelanguan tidak mengumbar hawa nafsu atau bersenang-senang.
Umat Hindu umumnya melakukan "Yoga Semadi" di rumah masing-masing, sekaligus kesempatan introspeksi diri terhadap perbuatan yang telah dilakukan, dengan harapan dapat diperbaiki atau disempurnakan sejak memasuki tahun baru Saka 1932.
Suasana Bali yang demikian itu berlangsung sejak pukul 06.00 Wita sebelum matahari terbit hingga jam 06.00 Wita keesokan harinya, Rabu (17/3).
Laporan dari sejumlah lokasi di kota Denpasar, daerah pedesaan Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, pinggiran perkotaan Kabupaten Gianyar, Desa Rendang Kabupaten Karangasem, daerah ujung timur Pulau Bali, menyebutkan hanya suara alam kicauan burung dan aneka satwa yang terdengar serta pepohonan diterpa angin.
Penutupan Bandara Internasional Ngurah Rai, dilakukan untuk yang ke-12 kalinya, bersamaan dengan penghentian operasional empat pelabuhan laut di Bali. Penutupan dilakukan 24 jam untuk semua jenis penerbangan, baik domestik maupun internasional, selama ini berlangsung cukup sukses, aman dan tertib.
Selama Hari Suci Nyepi, menurut Kabag Publikasi dan Dokumentasi Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali I Ketut Teneng, tidak ada keistimewaan bagi siapa saja untuk bisa menggunakan kendaraan bermotor, kecuali mendapat dispensasi yang dikeluarkan oleh Bendesa atau ketua adat terhadap warganya yang mendesak ke rumah sakit.
( Ant / CN16 )