
Pemalang, CyberNews. Selagi melakukan perjalanan ke Petarukan, Kabupaten Pemalang coba anda bertanya dimana rumah orang tua Dulmatin. Dijamin tidak berpikir lama orang yang anda tanyai akan menunjukkan arah menuju rumah di belakang Pasar Petarukan itu secara syahih dan tidak meleset.
Nama serta foto wajahnya baik ketika masih hidup ataupun saat ajal tiba beberapa hari ini riwa-riwi di stasiun televisi, Dulmatin bukanlah orang biasa yang secara tiba-tiba menjadi terkenal seantero Asia Tenggara bahkan dunia.
Dulmatin alias Joko Pitono alias Ammar alias Noval alias Yahya Ibrahim (40) menghabiskan masa kecilnya di Kabupaten Pemalang, sejak kecil Dulmatin sudah terkenal dikalangan teman-teman sekolah sebagai anak yang tidak mau mengikuti upacara. Meski berulang kali diingatkan oleh guru, tetap saja Dulmatin kecil tetap ogah mengikuti upacara. Menurut teman seangkatan Dulmatin saat sekolah dulu, nilai Dulmatin sangat bagus untuk mata pelajaran Fisika, Kimia, Matematika dengan nilai sembilan, sedangkan untuk Biologi Dulmatin hanya mendapatkan angka 8.
Seorang anggota intel Polres Pemalang yang tidak mau disebutkan namanya, bercerita dulu kira-kira 6 bulan sebelum tragedi Bom Bali I. Dulmatin merupakan tetangganya Kecamatan Pemalang, Dulmatin waktu itu dikenal sebagai makelar mobil. Tapi setelah peristiwa pengeboman itu tiba-tiba Dulmatin seakan-akan menghilang ditelan bumi dan tiba-tiba nama Dulmatin disebut-sebut terkait aksi pengeboman itu. Selain sebagai makelar jual beli mobil, Dulmatin juga pernah jadi pengusaha pembuatan meubel.
Dulmatin sendiri merupakan cucu dari Mbah Sofi seorang pengusaha sukses saat itu, bahkan beberapa warga bilang Mbah Sofie termasuk orang terkaya di Kabupaten Pemalang. Salah satu contohnya peninggalan tanah di Desa Loning yang saat ini diwakafkan untuk area pemakaman dan salah satu cucunya sekarang juga dimakamkan disana, yakni Dulmatin.
( Wisanggeni / CN14 )