
Foto: AP/Karim Kadim
Baghdad, CyberNews. Berbagai pihak di Irak telah memperkirakan bahwa pada Senin (8/3) kemarin koalisi yang dipimpin oleh Perdana Menteri, Irak Nouri al-Maliki akan memimpin dalam pemilu parlemen yang berlangsung Minggu (7/3) lalu. Meskipun hasil pemilu secara resmi belum dapat dipastikan dalam beberapa hari kedepan.
Sebuah kemenangan yang akan diraih al-Maliki di tengah sinyal adanya penolakan dari partai-partai keagamaan yang telah mendominasi negara yang dilanda kondlik itu sejak invasi pimpinan Amerika yang dimulai pada tahun 2003 lalu. Al-Maliki sendiri telah berusaha menjauhkan diri partainya dari akar agama dan mencoba menggambarkan dirinya lebih sebagai sosok nasionalis.
Pemungutan suara pada hari Minggu lalu merupakan ujian terbaru bagi sistem demokrasi Irak yang rapuh dan diharapkan nantinya akan dapat menentukan apakah negara itu bisa mengatasi dalam hal konflik sektarian yang terus melanda selama tujuh tahun terakhir.
Menurut Komisi Pemilihan Umum setempat, para pemilih dalam pemilu parlemen kedua di Irak ini hanya 62 persen dari sekitar 19 juta jumlah pemilih yang berhak. Jumlah ini lebih rendah dari pemilihan wakil parlemen terakhir yang diadakan pada Desember 2005 lalu, di mana sekitar 76 persen pemilih yang berhak memilih turut berperan serta dalam proses pengambilan suara.
Pihak komisi pemilu juga menyebutkan bahwa hasil penghitungan suara tahap awal untuk beberapa provinsi termasuk di Baghdad yang menjadi wilayah kunci untuk menentukan pemenang, akan diumumkan hari Selasa (9/3) ini. Tetapi hasil secara total belum dapat dipastikan dalam beberapa hari kedepan.
Pengamat politik di Irak belum dapat memperkirakan kelompok mana yang akan muncul sebagai pemenang di akhir perhitungan suara nantinya. Ketiga kelompok utama yang berebut kursi di parlemen adalah Koalisi Perdana Menteri Nouri al-Maliki, kelompok aliansi mantan Perdana Menteri Ayad Allawi dan kelompok Syiah religius yang merupakan Aliansi Nasional Irak.
( Yuska , AP / CN14 )