
Kudus, CyberNews. "Fung Tiauw Ie Swen, Kwok Dhay Ming An. Semoga terwujud negara gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo bagi seluruh bangsa dan negara kami Indonesia".
Begitulah kata-kata yang terucap saat toss (angkat gelas) dalam perayaan Cap Go Meh di Kudus, yang kini bukan hanya milik warga Tionghoa. Itu dapat dilihat ketika berbagai latar belakang masyarakat datang dan menikmati sejumlah pertunjukkan Cag Go Meh yang digelar di aula kelenteng Hok Hien Bio Kudus, Minggu (28/2) malam.
Riuh tepukan tawa dan canda, serta sedikit perbincangan ringan pun tak mudah dipadamkan. Mereka larut dalam acara yang dapat digunakan sebagai alat pemersatu bangsa. Kenyataan itu sebenarnya sama halnya yang terjadi pada masa Dinasti Han.
Cia Gwe Cap Goh (bulan satu tanggal 15) yang lebih populer disebut Cap Go Meh, adalah lafal dialek Tio Ciu dan Hokkian, artinya malam ke-15 Sincia (Imlek), sedangkan lafal dialek Hakka Cang Njiat Pan artinya pertengahan bulan satu.
Dalam sejarahnya di daratan Tiongkok dinamakan Yuan Xiau Jie, dalam bahasa Mandarin artinya festival malam bulan satu. Cap Go Meh mulai dirayakan di Indonesia sejak abad ke 17, ketika terjadi migrasi besar dari Tiongkok Selatan. Semasa dinasti Han, pada malam Cap Go Meh tersebut, raja akan keluar istana khusus turut merayakan bersama dengan rakyatnya.
Sesepuh Tionghoa Kudus, Liong Kwo Tjung disela-sela acara semalam mengatakan, petikan sejarah Cap go Meh merupakan salah satu inspirasi bagaimana antara rakyat dengan raja bersatu. "Namun sebenarnya bukan seperti itu maksud yang sesungguhnya, dalam perayaan Cap Go Me ini kami mengusung tema "All Man Are Brothers". Yang artinya kita semua saudara tanpa ada batasan apapun sehingga pada malam ini kami boleh merayakan malam persaudaraan dengan sukacita meski penuh dnegan kesederhanaan," katanya.
Dalam acara ini tidak kurang 700 lebih hadir memenuhi pehelatan tahun yang semakin meriah ini. "Kami memang menginginkan persaudaraan dan kehidupan lebih baik. Malam Cap Go Meh salah satu pelopor agar bangsa ini semakin kuat menghadapi segala problematika yang diakibatkan karena perbedaan pendapat pendapat, namun pada intinya kami mendapatkan kehidupan yang harmonis dengan siapa saja, tanpa memandang suku, agama maupun ras," ujarnya.
Ditambahkan, meski leluhur dari China namun tumpah darah tetap Indonesia, oleh karena itu tidak ada lagi yang dipermasalahkan. "Orang tua serta nenek moyang kami memang berasal dari negeri China namun karena sudah lahir dan besar disini,maka tanah air kami adalah di Indonesia tercinta. Seperti yang senantiasa kami ucapkan yang juga sebagian doa kami saat perayaan Cap Go Me ini, yaitu Fung Tiauw Ie Swen, Kwok Dhay Ming An," tandasnya.
( Ruli Aditio / CN13 )