
Magelang, CyberNews. Sebanyak 9 warga Desa Banyuadem, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang terserang penyakit malaria. Diduga sumber penyakit ini berasal dari luar daerah (impor).
Menurut Kepala Desa Banyuadem Supriyadi awalnya yang terserang adalah salah satu warganya yang habis bepergian dari NTT. "Ada warga yang menikah dengan orang NTT. Dia datang ke Srumbung sudah dalam kondisi sakit," kata Supriyadi.
Berdasarkan fakta itu, Supriyadi menduga sumber penyakit malaria berasal dari luar daerah. Namun demikian, dia tidak menutup kemungkinan bahwa bisa saja virus malaria yang disebarkan nyamuk anopheles tersebut memang sudah ada di desanya.
Karena itu, Supriyadi beserta perangkat desa menggalakkan pola hidup bersih dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). "Sumber malaria impor atau tidak nyatanya telah ada di desa kami. Yang terpenting sekarang adalah memberantas sarang nyamuk," jelas Supriyadi ditemui di rumahnya, Minggu (28/2).
Hal itu dinilai penting untuk memutus penyebaran malaria. Kesembilan warga yang terserang malaria rata-rata memiliki hubungan darah dan tinggal berdekatan. Mereka di antaranya Waginah, Dewi (anak Waginah), Siti (menantu Waginah), Udi Prayitno, Sumirah (istri Udi), Siti Aminah (anak Udi) serta Zaenal Azkuri. "Mereka sudah dinyatakan positif malaria dan sempat dirawat di RSUD Muntilan," jelas Supriyadi.
Para penderita rata-rata mengeluhkan tubuh terasa lemas, dingin dan menggigil, serta kepala dan perut terasa sakit. Tubuh penderita juga lebih pucat dan cenderung ke kuningan. "Tubuh saya terasa dingin dan menggigil pada jam-jam tertentu," ujar Udi Prayitno.
Hal itu dibenarkan Mulyono, suami Waginah, yang anak dan menantunya juga ikut terserang malaria. "Kulit istri saya jadi pucat dan berkerut. Setiap jam 8-10 pagi selalu demam. Kadang mual dan muntah. Demamnya beraturan," kata Mulyono.
Tak ingin kasus ini membesar, Supriyadi kemudian melaporkan hal itu ke bidan desa dan Puskesmas Srumbung. Sample darah warga yang berada di lingkungan korban kemudian diperiksa oleh Puskesmas Srumbung. Namun dari 267 warga yang diperiksa hanya satu yang dinyatakan suspeck.
Hal itu dibenarkan Kepala Puskemas Srumbung dr Tiniko Sumsumadewi. "Kami sudah memeriksa 267 warga untuk memastikan tidak ada warga lain yang terserang malaria. Dari hasil laboratorium kami pastikan hanya satu yang suspeck," jelas dr Tiniko Sumsumadewi.
Pemdes Banyuadem kemudian berinisiatif membeli 12 tangki semprot dan berbagai merek disinfektan. Peralatan senilai Rp 4,5 juta ini dibeli secara swadaya dengan menggunakan dana kas desa.
Saat ini seluruh kebun salak dan juga rumah-rumah warga hampir semuanya sudah disemprot dengan disinfektan. Penyemprotan dilakukan berulangkali agar siklus hidup nyamuk terputus. "Selagi sanggup menanganinya kami tidak akan minta bantuan pemerintah. Kami punya kas desa yang bisa digunakan," kata Supriyadi.
Dia berpendapat masyarakat harus mampu menangani sendiri permasalahan yang timbul di lingkungan sekitar mereka. "Jika kita tidak sanggup baru kami akan minta bantuan pemerintah," kata dia.
( MH Habib Shaleh / CN13 )