
Bandung, Cybernews. Anarkisme suporter kembali kumat. Disangka mengangkut kelompok pendukung Persis, Pasoepati, rangkaian KA Pasundan dari Surabaya ke Bandung dilempari batu oleh sekelompok orang yang diduga sebagai bobotoh Persib pada Kamis (25/2) malam.
Kejadian pelemparan tersebut terjadi antara petak jalan rel Stasiun Ciamis-Stasiun Manonjaya di Km 286+9/0 pukul 19.24 Wib. Tak hanya sekali, KA tersebut kembali dilempari saat melintas di petak Stasiun Ciawi-Stasiun Cirahayu. Akibat kejadian itu, tujuh penumpang terluka di bagian kepala.
Tiga orang di antaranya harus menghentikan perjalanannya karena dirujuk ke RSU Tasikmalaya. Satu orang dirawat di pos kesehatan stasiun. Tiga lainnya masih sanggup melanjutkan perjalanan ke Stasiun Kiaracondong. Akibat lainnya, jendela-jendela gerbong KA Pasundan dilaporkan banyak yang pecah.
"Tidak mungkin kalau masyarakat biasa yang melakukannya. Berdasarkan informasi di lapangan, banyak orang yang diduga bobotoh sudah bersiap-siap sebelum KA melintas," kata Jubir PT KA Daop II Bandung, Bambang S Prayitno saat dihubungi Jumat (26/2).
Aksi pelemparan itu sendiri memang terkesan aneh. Pasalnya, Persis Solo baru saja dijamu Persikab dalam laga lanjutan Divisi Utama di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung pada Kamis sore. Tapi laga ini dimajukan
sehari dari jadwal seharusnya pada Jumat.
Wajar jika Bambang menyatakan bahwa apa yang dilakukan bobotoh itu salah sasaran. Penumpang yang tidak tahu-menahu akhirnya menjadi korban. Menurut dia, aksi pelemparan itu sudah termasuk tindak kriminal.
Pihaknya menegaskan pihaknya tengah mempertimbangkan langkah hukum. Pasalnya, ini bukan kejadian pertama. Saat Persib menjamu Persisam pada Sabtu pekan lalu, bobotoh yang menaiki KA Lokal Purwakarta-Cibatu juga melakukan perusakan terhadap gerbong PT KA.
Dia juga mengaku tak habis mengerti dengan kondisi sepakbola nasional. Pasalnya, dampak negatifnya meluber termasuk terhadap kepada keamanan perjalanan KA. Untuk itu, pihaknya juga kemungkinan bersikap tegas menghadapinya.
"Opsi melarang bobotoh atau kelompok suporter lainnya menggunakan KA untuk mendukung timnya bertanding di tempat lain, tinggal ketok palu. Kami tak mau jadi korban terus-menerus," katanya.
"Sarana rusak siapa yang mau ganti, kami jelas rugi. Penumpang juga jadi celaka, bisa-bisa takut naik KA. Kemudian jika mengenai masinis kami bagaimana. Saya heran kok sepakbola jadi seperti ini," imbuhnya.
( Setiady Dwi / CN12 )