
Semarang, CyberNews. Bagi Rika (25), tak pernah sedikitpun terlintas firasat apapun, sebelum musibah penembakan menimpa ayahnya, Pelda Supriyatno (52). Putri sulung parjurit TNI anggota Ster Kodam IV/Diponegoro yang menjadi korban penembakan pelaku curanmor tersebut hanya bisa tertunduk pasrah. Hatinya semakin luruh saat ayahnya merintih kesakitan saat dibawa menuju ruang operasi RTS Wira Bhakti Tamtama Jl Dr Soetomo Semarang, Senin (15/2). Saat sejumlah petugas medis membawa masuk ayahnya ke dalam ruang operasi, Rika ditemani adik bungsunya Fadha (8) dan dua kerabatnya pun hanya bisa terduduk lesu di luar ruang operasi.
Ya, kejadian penembakan tersebut terjadi begitu cepat baginya. Meski tidak secara langsung menyaksikan kejadian itu, namun setidaknya ia masih sempat menyaksikan ayahnya terkapar tak berdaya dengan luka tembak di kaki kirinya. Suara letusan senjata api yang di tembakan pelaku curanmor yang sempat digagalkan ayahnya saat beraksi juga sempat mengagetkannya. Setidaknya terdengar dua kali letusan senjata api saat itu. Rumahnya yang hanya berjarak kurang dari 50 meter dari lokasi penembakan membuatnya mendengar jelas rintihan ayahnya usai tragedi penembakan tersebut.
Bagi Rika, apa yang sudah terjadi pada ayahnya tidak mungkin dihindari. Karena semua itu adalah takdir. Namun, ia tetap merasa bangga kepada ayahnya atas keberaniannya menggagalkan pelaku curanmor yang akan merampas sepeda motor Suzuki Satria F H-4112-EN milik Asril (17) yang tak lain tetangganya. Apalagi menjelang purna tugasnya yang tinggal dua bulan lagi, ayahnya masih sempat melakukan tindakan yang tak hanya membuat bangga keluarga namun juga korps-nya, Ster Kodam IV/Diponegoro.
Sementara itu, Kapendam menyampaikan kebanggaannya terhadap apa yang dilakukan Pelda Supriyatno."Apa yang telah dilakukan Pelda Supriyatno adalah bentuk sikap keberanian dan tanggung jawab seorang anggota TNI yang patut di contoh prajurit lainnya," jelasnya.
( Roosalina , Maulana M Fahmi / CN14 )