
Solo, CyberNews. Masalah pembangunan Kota Solo dibahas antara Wali Kota Joko Widodo (Jokowi) dan jajaranya bersama pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Surakarta, Senin (15/2). Bertempat di kantor Sekretariat Pengurus Cabang NU Jalan Honggowongso Pasarkembang Solo, persoalan bencana banjir, PKL, kawasan Silir Semanggi Pasarkliwon hingga pembangunan rohani dirembug secara blak-blakan.
Jokowi bersama lima pejabat dari SKPD dicecar berbagai pertanyaan berkait penanggulangan banjir yang menjadi langganan di kawasan Joyontakan Serengan, Kadipiro Banjarsari dan Pucangsawit Jebres, termasuk sistem drainase kota yang semrawut. Bahkan, keberadaanperempuan nakal di kawasan Jalan Abdul Rahman Saleh dan Terminal Tirtonadi yang "beroperasi" siang dan malam ikut disentil, karena dinilai mengganggu pendidikan generasi muda dan memperburuk cap Kota Solo.
Pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan setidaknya oleh tiga orang yakni, Martanto sekretaris PC NU Surakarta, Bagyo pengurus NU Pasarkliwon, dan Haris anggota Dewan Syuro.
Menjawab pertanyaan itu, Wali Kota periode 2005-2010 mengatakan, bahwa Pemkot saat ini sudah membuat master plan untuk menanggulangi banjir. Di kawasan bekas banjir dan bekas rendaman air sistem drainase sedang diperbaiki. Pembangunan talud Gajah Putih untuk penanggulangan banjir di wilayah Kadipiro kini sudah usai. Lalu pemasangan pompa yang mampu menyedot air dengan volume 2.000 liter/detik di kawasan Joyontakan dan Pucangsawit siap dioperasikan.
( Budi Sarmun S / CN14 )