panel header


DHUWUR WEKASANE, ENDHEK WIWITANE
Akhirnya Mulia, yang semula sederhana
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
09 Februari 2010 | 18:10 wib
Kepala Membesar, Tapi Bukan Hydrocephalus
Dila Yuliana Butuh Uluran Tangan

Karanganyar, CyberNews. Dila Yuliana, anak kedua pasangan Sriyanto (29) dan Endah Susilowati (25), menderita penyakit yang belum diketahui jenisnya. Bayi enam bulan itu menderita kelainan di kepalanya.

Sejak usia satu bulan, kepala anak kedua pasangan yang tinggal di Dukuh Alastuo RT 4 RW 6, Dusun Kayu Apak, Desa Wonolopo, Kecamatan Tasikmadu itu membesar. Batok kepala bagian atasnya juga tidak bisa mengeras, laiknya bayi normal.  Hingga sekarang, bagian atas kepala bayi malang itu masih empuk jika disentuh.

Awalnya Dila diduga menderita hydrocephalus, saat diperiksa ke Puskesmas Tasikmadu. Orang tuanya lalu memeriksakan bayi itu ke seorang dokter spesialis di Karanganyar. Dokter mengatakan, Dila diduga mengalami kanker otak.

Namun setelah diperiksakan ke RS Dr Oen Solo saat usianya dua bulan, Dila ternyata tidak menderita penyakit itu. Belum diketahui secara pasti, apa penyakit yang dialami Dila. "Sampai sekarang belum diketahui pasti, apa penyakitnya. Dokter yang memeriksa juga bingung. Mereka bilang baru sekali ini menemui penyakit seperti yang dialami anak saya," kata Sriyanto. 

Di rumah sakit, Dila menjalani CT-scan. Hasilnya, di kepala bayi mungil berbobot 7 kg itu ada cairan yang volumenya cukup banyak. Volume cairan itu mencapai 80 persen, dibanding volume otaknya.

"Tapi bukan hydrocephalus. Kalau hydrochepalus kan membesarnya cepat. Tapi anak saya ini tidak. Kalau hydrocephalus, mungkin saat itu sudah ada tindakan dari dokter. Dokternya mau mengoperasi juga masih tanda tanya. Hasil konsultasi ke ahli saraf, katanya itu kelainan," tutur pria yang sehari-hari bekerja serabutan untuk menghidupi keluarganya itu.

Karena tak ada kepastian, Dila kemudian dibawa pulang dan hingga sekarang belum menjalani perawatan medis lagi. Sehari-hari, bayi yang sejak lahir tidak mau minum ASI dari ibunya itu hanya terbaring di ranjang sederhana, di kamar orang tuanya.

Karena penyakitnya itu pula, perkembangan Dila terhambat. Dia hanya bisa telentang, belum bisa miring atau tengkurap, seperti halnya bayi-bayi normal. Lebih mengenaskan lagi, terkadang Dila mengalami kejang-kejang. Karena itu pula, dia tidak bisa lepas dari pengawasan orang tuanya. Endah dan Sriyanto dengan telaten menjaga dan merawat anak keduanya itu.

"Kasihan kalau ditinggal. Kalau pas kejang-kejang gak ada yang menunggu, kasihan," tutur Sriyanto.

Karena penyakitnya itu pula, Dila sering rewel. Bahkan dulu, ia bisa menangis sehari semalam. Mungkin karena merasakan sakit di kepalanya.

Endah menambahkan, pada waktu kehamilan, dia tidak mengalami keanehan dan tidak mengeluh macam-macam. "Proses kelahirannya juga normal. Pukul 21.00 dibawa ke klinik di Kebakkramat, pukul 21.30 anak saya sudah lahir," tuturnya.

Kondisi ekonomi yang terbatas, membuat Dila hingga kini belum mendapat penanganan yang maksimal untuk kesembuhannya. Keluarga itu berharap, ada pihak lain yang bisa membantu meringankan beban, untuk kesembuhan Dila.

( Irfan Salafudin / CN13 )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
25 Mei 2012 | 15:09 wib
Dibaca: 15
25 Mei 2012 | 14:59 wib
Dibaca: 138
25 Mei 2012 | 14:49 wib
Dibaca: 96
25 Mei 2012 | 14:38 wib
Dibaca: 101
25 Mei 2012 | 14:27 wib
Dibaca: 207
Panel menu tepopuler dan terkomentar
Berita Terpopuler
FOOTER