
Purworejo, CyberNews. Lima orang tokoh lintas agama, masing-masing KH Muzazi (Islam), Pendeta Pracoyo (Kristen), Romo Wignyo (Katolik), Ibu Samawati (Budha), dan Broto Muljono (aliran kepercayaan) secara bersama-sama memanjatkan doa untuk almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Doa bersama lintas agama itu digelar bersamaan dengan acara dialog dan sarasehan memperingati 40 hari wafatnya Gus Dur yang digelar Paguyuban Peduli Bangsa (PPB) bekerjasama dengan LPH Yaphi di Hotel Ganesha, Minggu (7/2). Adapun diskusi bertema "Mewujudkan Indonesia yang Berbhineka Tungga Ika" menghadirkan pembicara KH Dian Nafi, aktifis LSM dan pengasuh Pesantren Al Muayyat Solo.
Doa bersama yang dihadiri ratusan orang itu berlangsung sangat khidmat. Tokoh-tokoh lintas agama itu menyatakan kehilangan yang sangat mendalam atas kepergian Gus Dur. Menurut mereka, Gus Dur adalah seorang tokoh pluralis sejati. Bukan hanya sekedar wacana pluralisme yang dipegang oleh cucu pendiri NU ini, tapi sikap pluralisme juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Koordinator PPB Drs Thoha Mahasin mengatakan, pluralitas adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang majemuk. Mendasarkan pada pemikiran Gus Dur, dalam sebuah kemajemukan ada mayoritas, tapi keberadaanya dibatasi pula oleh minoritas. Dalam hal inilah secara otomatis ada implikasi pluralisme.
"Gus Dur mampu melahirkan pemikiran yang menjadi narasi besar bagaimana seharusnya hidup dalam ruang pluralis. Yaitu perlunya mengedepankan sikap toleran, saling menghargai, moderat. Bahkan Gus Dur tidak takut membela kaum minoritas meskipun karena itu beliau sering dihujat dan dicaci," paparnya.
( Nur Kholiq / CN14 )