
New York, Cybernews. Toyota Motor Corp sedang menghadapi sejumlah tuntutan hukum dari konsumen yang mengeluhkan kendaraan mereka yang tiba-tiba berakselerasi atau bertambah cepat, dan ingin produsen otomotif terbesar di dunia tersebut membayar untuk itu.
Pada pekan lalu, Toyota menghentikan penjualan delapan model di Amerika Serikat dan Kanada, termasuk model populernya Camry dan Corolla, karena kemungkinan akselerasi yang tidak diharapkan.
Sekitar delapan juta kendaraan siap untuk diperbaiki di seluruh dunia atas sejumlah masalah termasuk tuduhan kegagalan pedal akselerator yang dibuat oleh pemasok CTS Corp, dan kemungkinan bahwa karpet lantai dapat memacetkan pedal akselerator.
Model kendaraan Toyota lain yang ditarik adalah Avalon, Highlander, Matrix, RAV4, Sequoia dan Tundra.
Sejumlah masalah tersebut telah memudarkan reputasi Toyota dalam membuat kendaraan yang paling terpercaya di jalan. Itu merupakan isu keselamatan otomotif paling menonjol sejak laporan yang mencuat pada 2000 bahwa sejumlah roda Firestone yang dipasang di Ford Explorers mengalami kegagalan.
"Kewajiban bagi Toyota dapat mencapai miliaran dolar, karena jumlah kendaraan yang terlibat dan fakta adanya kecelakaan serius dan korban meninggal," kata Gary Robb, partner pada Robb & Robb LLC di Kansas City, Missouri. Ia mengatakan firma hukumnya telah menampung gugatan dari konsumen dan akan menuntut Toyota.
Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional AS mengatakan pihaknya belum memiliki bukti ada seseorang yang mengalami kecelakaan karena pedal yang macet. Dikatakan pihaknya telah mengkonfirmasi bahwa lima orang yang meninggal akibat dari jebakan karpet lantai.
Sejak November, sedikitnya 10 tuntutan hukum yang mengupayakan status class action telah gagal melawan Toyota di pengadilan AS dan di Pengadilan Tinggi Ontario di Kanada.
Dimungkinkan bahwa sejumlah proses pengadilan atau ligitasi AS dapat dikombinasikan karena tuntutan yang sama dan itu akan menjadi terlalu berat untuk menangani kasus satu pemilik secara bersamaan.Toyota pada Senin tidak langsung memberikan komentar atas tuntutan hukum itu.
( Ant / CN12 )