
Semarang, CyberrNews. Seperti tahun-tahun sebelumnya, acap kali musim hujan, penjualan ikan asin mengalami kemerosotan. Demikian pula sekarang ini. Sebagian pedagang mengaku mengalami penurunan penjualan. Penyebabnya, karena faktor cuaca yang tidak menentu. Tidak adanya panas dan juga kesulitan mencari ikan karena banyak nelayan tidak berani melaut.
Siti Zulaikah (44), penjual ikan asin di Pasar Kobong (Pasar Rejomulyo) mengaku, sebelumnya mampu menjual ikan asin hingga 1 ton per hari. Namun, karena faktor cuaca yang kurang mendukung, saban harinya, dia hanya mampu menjual kurang dari 1 ton. Ikan-ikan tersebut di kulaknya dari nelayan di Tambaklorok maupun sejumlah bakul dari berbagai daerah luar Semarang yang saban sore menyambangi pasar tersebut. "Saya kesulitan untuk mengeringkan. Pasalnya cuaca tidak mendukung. Terkadang baru dijemur satu jam, sudah hujan, sehingga ikan itu harus kembali dimasukkan supaya tidak kehujanan," katanya, Selasa (26/1).
Hal itu mengakibatkan bahan baku itu terpaksa dimasukkan ke dalam friser supaya tidak membusuk. Jika sampai empat hari tidak ada terik matahari, maka ikan yang disimpan akan rusak. Setelah ada panas atau tidak hujan, ikan kembali dikeluarkan lalu dijemur. "Kendala lainnya selama musim hujan yakni sulitnya mencari bahan baku," tambahnya.
Harga per eceran ikan teri kualitas I dipatok Rp 17.000/kg, kelas II Rp 14.000/kg, dan kelas III Rp 5.000/kg. Ikan layur antara Rp 5.000/kg-Rp 10.000/kg, pedo Rp 5.000/kg, pedo banyar Rp 8.000/kg-Rp 10.000/kg, ikan juwi Rp 2.000/kg, gabus Rp 16.000/kg, dan ikan bluso Rp 9.000/kg - Rp 10.000/kg.
( Rosyid Ridho / CN14 )