
Solo, CyberNews. Kendati di gudang Bulog Subdivre III Surakarta masih banyak tersimpan, namun beras medium jenis C4 biasa atau kelas dua langka di pasaran. Para distributor maupun pedagang mulai kehabisan persediaan. Kalau pun ada yang dijual adalah beras jenis premium seperti rojo lele, mentik wangi, dan beras ketan serta jenis C4 super atau kelas satu yang harganya tentu saja lebih mahal. Padahal beras C4 biasa atau kelas dua banyak dicari masyarakat lantaran harganya murah dan terjangkau.
"Saya masih tetap menjual beras, tapi jenisnya premium. Untuk beras yang laku di pasaran (C4 biasa-red) masih kosong. Biasanya tiap bulan persediaan kami hingga 3 kwintal tiap bulan," kata Ali Wiyono, salah seorang pedagang di Pasar Legi Solo.
Menurut dia, pada awal Desember lalu para pedagang yang "kulakan" seharga Rp 3.800 per kg masih bisa menjual dengan harga senilai Rp 4.200 hingga Rp 4.300. Selanjutnya, pada pertengahan Desember para pedagang terpaksa menjual dengan harga Rp 4.700 lantaran harga belinya sudah naik senilai Rp 4.200. Kemarin untuk harga "kulakannya" saja sudah naik menjadi Rp 5.200.
Kepala Bulog Subdivre III Surakarta Nono Sukrono mengakui bahwa di gudangnya masih tersimpan hingga 57.000 ton. Bahkan Bulog kesulitan untuk melempar beras itu agar gudang Bulog segera kosong untuk menyimpan beras di musim panen yang akan datang. Namun pihaknya tidak bisa melempar beras itu di pasaran karena ada mekanismenya. Yakni, harus ada permintaan dari pemerintah daerah baik pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota.
( Langgeng Widodo / CN14 )